Di SMP Kanisius Kalasan, para siswa diajak untuk menyelami makna Laudato Si’, sebuah ajakan untuk mencintai dan merawat bumi sebagai rumah bersama. Kegiatan ini tidak hanya sekadar teori, melainkan langsung dipraktikkan lewat pengalaman nyata, yaitu membuat eco enzyme bersama-sama.
Kegiatan berlangsung selama tiga hari. Hari Senin diikuti oleh siswa kelas VII, hari Selasa untuk kelas VIII, dan hari Rabu menjadi giliran kelas IX. Dengan pembagian ini, setiap angkatan berkesempatan merasakan pengalaman yang sama, tetapi dalam suasana kelompok mereka masing-masing.
Acara dibuka dengan sambutan dan perkenalan dari para pendamping, Suster Agnes dan Suster Meta. Kehangatan mereka membuat para siswa merasa dekat, seakan-akan kegiatan ini bukan hanya pelajaran, tetapi juga perjalanan bersama untuk menemukan makna baru dalam menjaga lingkungan.
Sebelum masuk ke praktik, para siswa lebih dulu diajak menonton sebuah film singkat. Film itu menampilkan betapa kaya dan indahnya ciptaan Tuhan. Mulai dari laut yang penuh ikan, hutan yang dipenuhi kehidupan, hingga alunan lagu rohani yang menguatkan rasa syukur. Melalui film itu, para siswa diingatkan bahwa bumi ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi anugerah yang harus dirawat.
Setelah itu, tibalah waktunya untuk sesi mengamati lingkungan secara langsung. Dengan kaca pembesar di tangan, buku gambar, dan pensil warna, para siswa berkeliling lingkungan sekolah. Mereka mengamati daun, batang pohon, bunga, bahkan rumput kecil yang sering tak diperhatikan. Setiap detail digambar, setiap warna dituangkan di kertas. Dari hal sederhana ini, muncul sebuah kesadaran, bahwa ciptaan Tuhan sungguh unik dan indah, bahkan dalam hal-hal kecil yang kadang luput dari mata.
Tuhan sudah begitu detail dalam menciptakan alam, namun apakah manusia juga sudah cukup detail dalam merawatnya?
Sesi berikutnya adalah inti kegiatan, pembuatan eco enzyme. Setiap kelompok membawa bahan-bahan organik seperti kulit jeruk, apel, nanas, atau semangka, yang dipadukan dengan molase dan air. Diawali dengan mencuci wadah untuk eco enzyme, memotong kulit buah, dan memasukkan semua bahan ke wadah tersebut, lalu ditutup rapat. Prosesnya tidak langsung jadi, butuh waktu tiga bulan agar eco enzyme bisa dipakai. Dari sini, para siswa belajar satu hal penting, bahwa merawat bumi butuh kesabaran, ketekunan, dan proses yang panjang.
Kegiatan diakhiri dengan tanya jawab serta refleksi pengalaman. Banyak siswa yang mengatakan bahwa mereka menjadi lebih peka terhadap alam sekitar. Ada yang merasa kagum, ada pula yang tersadar bahwa selama ini mereka terlalu sering mengabaikan hal-hal kecil yang ternyata menyimpan makna besar.
Laudato Si’ di SMP Kanisius Kalasan bukan sekadar kegiatan sehari, tetapi juga menjadi ajakan yang menggema, mulai dari melihat, merenungkan, lalu bertindak. Dari kaca pembesar yang sederhana hingga eco enzyme yang baru akan jadi tiga bulan kemudian, para siswa belajar bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari gerakan besar menjaga bumi.