Yayasan Kanisius, sebagai salah satu lembaga pendidikan Katolik, telah menjadi saksi dedikasi puluhan pendidik selama lebih dari satu abad. Di balik kesuksesan lembaga ini, ada cerita inspiratif dari individu-individu yang telah mengabdi selama 25 tahun atau lebih yang membentuk generasi muda dengan teladan, ketekunan, dan kasih.
Empat tokoh inspiratif—Ibu Ika Purbiantari Guru SMP Kanisius Raden Patah, Ibu Tutik Supriyanti Guru TK Kanisius Kaliwinong, Bapak Agustinus Suwasma Kepala SD Kanisius Kudus, dan Bapak Felix Yanik Staf Personalia Kantor Pusat—merupakan representasi nyata dari semangat pengabdian yang tak tergoyahkan.
Ibu Ika Purbiantari S.Pd telah memimpin SMP Kanisius Raden Patah sebagai kepala sekolah dengan dedikasi yang menginspirasi. Di sekolah multi-kultural ini, ia menekankan toleransi beragama sebagai fondasi pendidikan. Dia juga berperan untuk menfasilitasi pelatihan para guru untuk media pembelajaran digital dan ekstra-kurikuler komputer. Ia ingin memastikan para muridnya agar siap menghadapi era modern.
Ibu Tutik Supriyanti S.E telah menjadi "ibu kedua" anak-anak TK Kanisius Kaliwinong. Ia mengembangkan pendampingan anak usia dini sebagai guru homeroom dan operator dapodik. Dalam lingkungan pedesaan, ia membimbing anak-anak dengan pendekatan holistik, mengintegrasikan nilai-nilai Katolik dan literasi dasar meskipun dengan fasilitas sederhana. Melalui peran adminstrasinya, ia memastikan data pendidikan akurat.
Bapak Agustinus Suwasma S.Pd saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah. Ia memiliki perhatian untuk membentuk generasi yang inklusif. Dia rutin mengintegrasikan nilai Bhinneka Tunggal Ika melalui kegiatan budaya seperti atraksi Barongsai pada perayaan Imlek tahun 2020 dan 2023.
Sementara itu, Bapak Felix Yanik Sargunadi, Staf Kantor Pusat Yayasan Kanisius, berperan sangat aktif di balik operasional Kantor Pusat Yayasan. Di era digital, pak Felix bersama teman-temannya berupaya memodernisasi sistem database dan mempermudah koordinasi antar-cabang dan antar-sekolah. Kontribusinya tak terlihat, tapi krusial, seperti roda gigi yang membuat mesin Yayasan berputar lancar.
25 tahun bukan sekadar angka. Ini adalah perjalanan penuh air mata, tawa, suka-duka, dan kemenangan. Keempat rekan kita ini mengajarkan bahwa pengabdian sejati lahir dari kesetiaan dan kesungguhan untuk siap berkembang, terbuka dan mau belajar hal-hal baru. Kita patut bangga memiliki mereka—penerang bagi banyak jiwa. Semoga kisah ini menginspirasi generasi baru untuk dapat melanjutkan obor pengabdian ini.