Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering terjebak dalam pusaran ambisi pribadi: karir gemilang, harta berlimpah, atau prestasi yang memuaskan ego. Namun, benarkah itu tujuan sejati keberadaan kita? Iman kita mengingatkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Penciptaan kita bukanlah kebetulan egois, melainkan luapan kasih Allah yang tak terukur. Kita lahir bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk menjadi men and women for and with others—pria dan wanita yang hidup demi dan bersama sesama, seperti yang diajarkan dalam spiritualitas Ignasian.
Kasih Allah yang murni itu memanggil kita keluar dari zona nyaman. Ia menciptakan kita agar kita menjadi saluran berkat bagi dunia. Bayangkan, setiap napas yang kita hirup adalah undangan untuk berbagi. Bukan sekadar berbagi harta, tapi juga waktu, empati, dan kehadiran. Di tengah krisis lingkungan dan ketidakadilan sosial saat ini, panggilan ini semakin mendesak. Pandemi COVID-19 yang pernah kita alami bersama telah membuka mata kita: betapa saling ketergantungan manusia itu. Kita tak bisa bertahan sendirian. Kita diciptakan untuk saling menguatkan, seperti rantai yang kuat karena mata rantainya saling terkait.
Kecerdasan yang kita raih—melalui pendidikan, inovasi, atau pengalaman—bukan milik pribadi. Kecerdasan kita adalah amanah Tuhan untuk melindungi martabat semua ciptaan. Manusia, dengan segala keragaman budaya dan latar belakangnya, harus dijaga hak-hak dasarnya: keadilan, perdamaian, dan penghargaan atas martabat ilahi di dalam diri masing-masing. Tak hanya itu, ciptaan lain—binatang, tumbuhan, dan bumi kita yang kian rapuh—juga layak dilindungi. Ilmu pengetahuan modern, seperti teknologi hijau dan konservasi, adalah alat untuk itu. Seorang ilmuwan yang mengembangkan vaksin bukan untuk keuntungan, tapi untuk menyelamatkan nyawa; seorang aktivis lingkungan yang menanam pohon bukan untuk pamer, tapi untuk menjaga warisan bagi generasi mendatang. Inilah kecerdasan yang benar: yang melayani, bukan mendominasi; yang membuat kehidupan kita semakin lebih manusiawi, lebih sehat dan berkeadilan.
Setiap kemampuan yang Tuhan anugerahkan—bakat seni, kepemimpinan, atau ketangguhan—harus kita kembangkan hingga bermuara pada karakter belarasa atau kepedulian. Belarasa, atau belas kasih yang mendalam, adalah inti dari panggilan ilahi. Ia bukan sekadar simpati sementara, tapi komitmen untuk merasakan penderitaan orang lain sebagai milik kita sendiri. Seperti Yesus yang menyembuhkan orang sakit dan memberi makan ribuan, belarasa atau kepedulian mendorong kita untuk bertindak: mengunjungi yang kesepian, membela yang tertindas, dan merawat alam yang merintih. Karakter ini lahir dari doa, refleksi, dan komunitas pendidikan, mengubah kita dari individu egois menjadi agen kasih.
Inilah cara kita memuliakan, menghormati, dan mengabdi kepada Allah: dengan hidup yang mencerminkan kasih-Nya. Kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan hidup yang kudus. Bukan melalui ritual kosong, tapi melalui pelayanan nyata. Saat kita memilih belarasa, kita tak hanya menyelamatkan dunia, tapi juga menyembuhkan jiwa kita sendiri. Mari, renungkan: hari ini, di saat kita mensyukuri perjalanan ke-107 Yayasan kita, bagaimana saya bisa menjadi peduli - "for and with others"? Jawabannya ada di tangan kita—dan di hati yang terbuka bagi kasih Tuhan untuk bertumbuh dalam kecerdasan dan membangun budaya aman.