Dalam rangka peningkatan kompetensi guru dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21, dua kegiatan pelatihan telah diselenggarakan pada bulan September 2025. Kegiatan ini berfokus pada penguatan kemampuan berpikir komputasional (computational thinking) dan penerapan coding dalam pembelajaran. Kedua materi tersebut menjadi kunci penting dalam menyiapkan peserta didik agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi berbasis teknologi.
Pelatihan pertama dilaksanakan pada Sabtu, 20 September 2025 dengan narasumber Ibu Ir. Paulina Heruningsih Prima Rosa S.Si., M.Sc. yang membawakan materi Computational Thinking. Dalam sesi ini, peserta (guru-guru kanisius) diajak memahami bahwa berpikir komputasional bukan sekadar kemampuan teknis dalam pemrograman, melainkan cara berpikir sistematis untuk memecahkan masalah. Narasumber menekankan empat komponen utama berpikir komputasional, yaitu dekomposisi (memecah masalah menjadi bagian-bagian kecil), pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma.
Melalui contoh-contoh sederhana peserta dilatih untuk melihat bagaimana konsep berpikir komputasional dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun pembelajaran di kelas.
Salah satu hal menarik dari sesi ini adalah bagaimana narasumber menekankan bahwa computational thinking tidak hanya untuk mata pelajaran TIK, melainkan juga dapat diintegrasikan dalam berbagai bidang seperti matematika, sains, bahkan bahasa. Pendekatan ini membuka wawasan para guru untuk mengubah cara mengajar menjadi lebih berorientasi pada proses berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Pelatihan kedua berlangsung pada Sabtu, 27 September 2025 dengan narasumber Bapak Puspaningtyas Sanjoyo Adi, S.T., M.T. yang membahas materi Coding. Sesi ini merupakan kelanjutan praktis dari pelatihan sebelumnya. Jika computational thinking menekankan pola berpikir, maka coding berfokus pada penerapan logika berpikir dalam bentuk bahasa pemrograman. Narasumber memperkenalkan konsep dasar coding menggunakan platform visual sederhana yang ramah bagi pemula, seperti Scratch.
Melalui aktivitas interaktif, peserta diajak membuat program sederhana, misalnya permainan edukatif dan animasi singkat. Pelatihan ini memberikan pengalaman langsung bagi peserta untuk melihat bagaimana logika pemrograman dapat melatih ketelitian, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah. Selain itu, narasumber juga menunjukkan bagaimana coding dapat digunakan sebagai media pembelajaran lintas mata pelajaran. Misalnya, siswa dapat belajar matematika melalui pembuatan permainan berhitung, atau belajar bahasa dengan membuat dialog interaktif menggunakan blok kode.
Bagaimana Memaknai?
Secara reflektif, kedua pelatihan ini memberikan kesadaran mendalam bahwa pendidikan masa kini harus bertransformasi dari paradigma transfer of knowledge menuju transformation of thinking. Artinya, pembelajaran tidak lagi berfokus pada seberapa banyak siswa mampu menghafal informasi, melainkan pada bagaimana mereka mampu menggunakan pengetahuan untuk mencipta, menganalisis, dan memecahkan masalah nyata.
Computational thinking dan coding hadir sebagai pendekatan yang menuntun peserta didik untuk berpikir sistematis, logis, dan kreatif—tiga kompetensi utama yang menjadi fondasi literasi baru di era digital. Pelatihan ini juga memperluas pandangan bahwa literasi digital bukan lagi keterampilan tambahan yang bersifat teknis, tetapi telah menjadi komponen utama dari kompetensi abad ke-21. Guru perlu memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara pedagogis untuk mendukung berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas siswa.
Melalui computational thinking, guru dapat mengajarkan cara berpikir logis tanpa harus selalu berhadapan dengan komputer, sedangkan melalui coding, mereka dapat menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif dan kontekstual. Selain itu, pelatihan ini menumbuhkan refleksi penting tentang pentingnya kesiapan mental guru dalam beradaptasi terhadap perubahan. Banyak guru yang awalnya merasa ragu atau bahkan canggung dengan istilah coding, namun setelah mengikuti pelatihan, muncul rasa percaya diri baru untuk mencoba dan bereksperimen.
Dari keseluruhan kegiatan, peserta memperoleh inspirasi untuk mengintegrasikan pendekatan berpikir komputasional dan coding secara kreatif dalam pembelajaran sehari-hari. Ada kesadaran baru bahwa mengajarkan coding bukan hanya mengajarkan bahasa pemrograman, melainkan mengajarkan cara berpikir, cara memahami masalah, mencari solusi, dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat. Dengan demikian, kedua pelatihan ini tidak hanya memperkaya wawasan guru secara teknis dan metodologis, tetapi juga menjadi titik tolak menuju transformasi.