Semburat merah mulai terlihat dari rongga tingkap yang masih tertutup rapat. Sepasang mata mungil terhempas oleh sapuan jemari kecil seolah bersiap untuk menyambut hari yang baru. Namanya Kenzie, salah satu tunas bangsa yang mengenyam pendidikan di SD Kanisius Pugeran. Dengan tubuh terbalut wastra khas Yogyakarta dan berbekal hati yang riang, Kenzie bersiap untuk mengikuti peringatan Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta yang ke-269 di sekolahnya.
Pagi ini tepat tanggal 7 Oktober 2025, semua murid di SD Kanisius Pugeran berkumpul di halaman sekolah. Berbalut busana "Gagrak Jogja", seluruh warga sekolah dengan khidmat mengikuti upacara bendera peringatan HUT Kota Yogyakarta yang ke-269. Setelah upacara bendera, para murid diminta untuk masuk ruang kelas masing-masing. Di dalam kelas, murid dan guru bersama-sama menikmati bekal makanan tradisional yang sudah disiapkan dari rumah. Ada yang saling bertukar makanan, ada juga yang tetap menikmati bekalnya sendiri. Tidak lupa beberapa murid diminta maju ke depan kelas untuk menceritakan asal-usul makanan yang dibawanya. Tiga puluh menit berlalu, bekal yang dinikmati di kelas ternyata dapat mengembalikan sebagian energi setelah upacara.
Dengan penuh gelora para murid bersiap mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya. Ada 3 kegiatan utama yang sudah para guru persiapkan. Kegiatan pertama, murid diajak untuk mewarnai simbol atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Kota Yogyakarta seperti gambar Tugu Jogja, Keraton Yogyakarta, dan gunungan. Seperti pada umumnya, semua yang berulang tahun pasti memiliki harapan, begitu juga Kota Yogyakarta. Harapan-harapan baik tersebut ditorehkan dalam sebuah goresan pena pada gambar oleh masing-masing murid yang sangat mencintai kota dimana mereka tinggal.
Kegiatan kedua murid diajak untuk menonton video mengenai sejarah Kota Yogyakarta dan pewayangan. Bukan tanpa alasan, melalui video ini murid diajak untuk memahami sejarah kota tempat tinggalnya. Tidak lupa murid juga diajak mengenal tokoh pewayangan yang ceritanya dijadikan salah satu tontonan terkenal masyarakat Yogyakarta tempo dulu. Sebagian besar generasi milenial masih mengenal permainan tradisional yang sudah mulai tergerus zaman setelah kelahiran Generasi Z. Semakin kesini, hanya sedikit anak-anak yang masih mau memainkan atau paling tidak mengenal permainan tradisional daerah.
Di era gempuran kemajuan teknologi yang berkembang pesat, murid SD Kanisius Pugeran diajak untuk bermain permainan tradisional daerah. Tidak sekadar duduk manis sambil menatap layar kaca beradiasi tinggi, melalui permainan tradisional murid diajak untuk mengoptimalkan seluruh pancaindranya. Tidak hanya melatih mental dan otak, melalui permainan tradisional seperti Ular Naga, Engklek, Jamuran, dan lain sebagainya, murid diajak terus berpikir dan bergerak sehingga terjadi keseimbangan antara kesehatan tubuh dan mental.
Saat mentari mulai menuju tepat di atas kepala, semua rangkaian kegiatan Peringatan HUT Kota Yogyakarta yang ke-269 telah usai. Ada binar yang tak terbantahkan di mata para murid selama mengikuti rangkaian kegiatan ini. Para murid melanjutkannya dengan kegiatan pembelajaran seperti biasa.
Kegiatan peringatan HUT Kota Yogyakarta di SD Kanisius Pugeran mencerminkan penerapan Paradigma Pedagogi Reflektif yang menumbuhkan kesadaran diri, kepedulian sosial, dan rasa syukur dalam bingkai budaya lokal. Melalui refleksi dan aksi dari setiap kegiatan mulai dari upacara, berbagi makanan tradisional, hingga permainan daerah, murid diajak mengenali nilai-nilai luhur Yogyakarta yang adiluhung dan relevan di masa kini.
Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran kontekstual yang menanamkan cinta budaya, karakter reflektif, serta semangat untuk menjaga identitas budaya Yogyakarta agar tetap hidup dan bermakna bagi generasi penerus bangsa.