“Inilah kami, anak-anak kenalan. Kami insan ceria berani dan Merdeka.Republik anak kenalan Bahagia. Inilah kami, anak-anak kenalan. Kamilah putra bangsa. Berjuang penuh asa. Bumi damai besarlah nama Tuhan”
Kenalan – Syair di atas merupakan penggalan lagu Mars Republik Anak Kenalan (RAK), yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus HUT RAK ke-19. Kemerdekaan tidak hanya lahir dari medan perang atau demonstrasi. Kemerdekaan juga dapat tumbuh dari suara anak-anak yang berani bernyanyi, menyampaikan gagasan, mengambil peran dan kesempatan untuk belajar menentukan tujuan serta masa depan komunitasnya.
Senin 17 Agustus 2026 suasana di area Peziarahan Sendangsono, Paroki Promasan, tampak berbeda. Kami tidak melaksanakan upacara bendera di sekolah. Hari dimulai dengan mengikuti ekaristi di Gereja, kemudian kami berdiri melingkar untuk mendengarkan pengantar dan arahan dari Adelio, Presiden RAK ke-38, di padusan Sendangsono. Sebanyak 41 murid, 13 pendamping dari SD Kanisius Kenalan, beberapa pengurus peziarahan Sendangsono, dan beberapa orang tua murid melakukan jalan salib panjang kurang lebih 2 km dengan tiga perhentian utama, kemudian dilanjutkan dengan urmat bendera di Sendangsono. Tema utama yang diusung adalah doa untuk tanah dan air Indonesia.
Tema “urmat bendera tanah air” dipilih sebagai bagian dari hasil refleksi pembelajaran para murid di SD Kanisius Kenalan. Konteks pembelajaran yang sedang dijalani adalah kelestarian lingkungan alam sekitar perbukitan Menoreh yang membutuhkan perhatian agar tetap terjaga dan terus lestari. Banyaknya pengerukan lahan di perbukitan menoreh tentu akan berdampak pada kelestarian alam dan keberlangsungan makhluk hidup di sekitarnya termasuk akan berdampak pada kelestarian air sumber kehidupan.
Berbekal bendera merah putih kecil di tangan, kami menyusuri jalanan berbatu sambil mendaraskan doa Salam Maria untuk Nusantara sepanjang perjalanan. Dari 14 perhentian jalan salib, kami berhenti di tiga pemberhentian: stasi ke-3, ke-7, dan ke-9. Ketiga pemberhentian tersebut adalah titik ketika Yesus jatuh sebanyak 3 kali dalam perjalanan memanggul salib menuju Golgota. Kami memaknai bahwa manusia juga sering jatuh dalam memikul tanggung jawabnya menjaga dan melestarikan alam. Tanah dan air sumber kehidupan utama bagi makhluk hidup justru sering mengalami kerusakan akibat tindakan manusia.
Ujub doa pada perhentian pertama ditujukan untuk tanah. Ujub perhentian kedua untuk air. Ujub perhentian ketiga untuk tanah air Nusantara. Tiga orang guru memberikan renungan singkat di setiap pemberhentian. Amanat yang diberikan adalah untuk menjaga tanah dan air di perbukitan Menoreh dan tempat tinggal mereka dengan cara sederhana yang bisa dilakukan. Kuncinya adalah kepedulian. Secara khusus, kami menyiapkan tiga bibit pohon mangga untuk kami tanam di sekitar lokasi pemberhentian. Ketiga pohon mangga tersebut kami beri nama Nuswa, Swatantra, dan Rahayu.
Nuswa merupakan penggalan dari kata Nuswantara atau Nusantara: tanah, tempat kita berpijak dan tumbuh. Pohon ini diharaplkan menjadi pengingat bahwa tanah tempat kita berpijak harus dirawat.
Swatantra, dari Bahasa Sanskerta svatantra, dimaknai sebagai kemampuan untuk mengatur diri sendiri. Kami berharap, pohon ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dan kebebasan tidak layak untuk disalahgunakan dengan tidak bertanggung jawab.
Pohon ketiga diberi nama Rahayu, dari Bahasa Jawa yang mengandung makna keselamatan, kesejahteraan, dan segala keadaan yang baik. Ketika tanah dan air dijaga, kami percaya bahwa kesejahteraan akan mengikuti kehidupan setiap makhluk hidup.
Penanaman pohon mangga berlangsung dalam suasana khusyuk. Suasana semakin sakral ketika semua peserta berdiri mengelilingi pohon dan mengarahkan tangan kanan pada pohon mangga sebagai ungkapan doa dan berkat. Kami berdoa sambil menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” dan “Air Sumber Hidup”. Pupuk kandang fermentasi yang dihasilkan melalui kegiatan ekstrakurikuler wiji thukul turut ditaburkan agar pohon dapat tumbuh subur.
Sesampainya di Sendangsono kami melaksanakan upacara pengibaran sangsaka merah putih. Adelio, presiden RAK, bertugas sebagai inspektur upacara berpesan agar kita selalu mendoakan para pahlawan dan terus menjaga kelestarian tanah air untuk kehidupan kita bersama. Kabinet Adelio dan Tyan merupakan kabinet yang baru dilantik pada bulan Juni lalu. Pada momentum ini, simbol tongkat kepresidenan yang terbuat dari batang pohon palem resmi diserahkan kepada presiden yang baru.
Dalam kesempatan yang sama, Leader dan Co-Leader komunitas RAK kecil dilantik dan diberkati melalui perantaraan Romo Raditya Reliantoko, Pr. Pada akhir upacara, untuk pertama kalinya seluruh warga RAK menyanyikan Mars RAK. Mars RAK tersebut diharapkan menjadi penyemangat, pengingat, sekaligus menjadi arah dan tujuan dari setiap warga komunitas RAK dalama menjalankan tugas dan perannya membangun kehidupan bersama. Syair mars disusun oleh Yosef Onesimus Maryono, S. Pd., dan di aransemen oleh bapak FX Wahyu Joko Pramodo, S.Pd.
Pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Pendidikan tercipta secara lebih nyata ketika anak mengalami dan menemukan makna pengalamannya. Dalam kegiatan yang diadakan ini anak belajar bahwa kemerdekaan bukan untuk menjadi bebas, tetapi justru memiliki kesempatan untuk belajar mengatur diri dan menggunakan kebebasan untuk kebaikan bersama.
Melalui kegiatan Camping Cabinet (Campinet) pada tanggal 13-14 Agustus 2026, presiden beserta kabinetnya telah belajar bahwa hidup dalam komunitas bukan sekedar jabatan dan menjalankan program, melainkan menentukan tujuan bersama, berdialog, mengambil peran, bekerja sama, bertanggung jawab, dan mendengarkan demi kebaikan bersama seluruh anggota komunitas. Semoga mereka peduli dan peka terhadap kelestarian alam tempat tinggal bersama.