Kalasan - Pembentukan karakter dalam diri siswa tidak pernah lahir dari ruang-ruang yang steril tanpa tantangan. Sebaliknya, ia ditempa dan diuji melalui realitas kehidupan sehari-hari. Bagi kami di SMP Kanisius Kalasan, dinamika lingkungan sekolah yang saat ini berdampingan langsung dengan megaproyek pembangunan jalan tol tidak menjadi penghalang. Melalui paradigma pendidikan yang reflektif, tantangan fisik tersebut justru kami maknai sebagai laboratorium kehidupan untuk membentuk resiliensi dan karakter tangguh siswa seturut dengan teladan pelindung kami, Santo Petrus Kanisius.
Salah satu wujud nyata dari pendampingan karakter ini tercermin dalam pelaksanaan ujian praktik mata pelajaran Prakarya bagi seluruh siswa kelas IX baru-baru ini. Agenda tahunan ini bukan sekadar urusan menilai sejauh mana siswa mampu mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang layak konsumsi. Lebih dari itu, ujian praktik ini dirancang sebagai ruang kolaboratif yang menuntut kedewasaan emosional, toleransi, dan kemampuan beradaptasi. Setiap kelompok ditantang untuk menyiapkan satu menu makanan utama berupa aneka variasi nasi goreng, didampingi dengan satu jenis minuman segar peracik dahaga.
Hal yang sangat membanggakan adalah lahirnya keberanian berinovasi di antara anak-anak. Salah satu kelompok secara mengejutkan memutuskan untuk memasak menu yang cukup asing bagi saya: “Nasi Goreng Matcha”. Alih-alih memilih menu yang aman, mereka dengan percaya diri memadukan gurihnya bumbu tradisional dengan aroma teh hijau. Keberanian keluar dari zona nyaman untuk menciptakan sesuatu yang baru ini merupakan cerminan dari salah satu pilar utama Kanisius, yaitu mendidik generasi yang kreatif, kritis, dan berani menghadapi tantangan zaman.
Namun, esensi pendidikan karakter yang sesungguhnya justru terlihat dari bagaimana proses memasak itu berlangsung. Karena keterbatasan ruang praktik yang kami miliki, selasar kelas dan area pinggir lapangan sekolah disulap menjadi dapur terbuka dadakan. Di area terbatas inilah para siswa mempraktikkan "diplomasi ruang" dan toleransi yang tinggi. Mereka harus berbagi tempat dengan riuhnya aktivitas siswa lain yang sedang berolahraga di lapangan. Di saat yang sama, mereka wajib mengondisikan diri agar aroma masakan dan riuhnya diskusi kelompok tidak memecah konsentrasi pembelajaran adik-adik kelas VII dan VIII yang sedang belajar di dalam ruang kelas.
Sebagai guru pendamping dan bersama guru pengampu mata pelajaran prakarya, aspek penilaian yang kami tekankan pun melampaui batas rasa dan estetika teknik penyajian semata. Kolaborasi batin dalam kelompok, kebersihan proses memasak, serta tanggung jawab untuk merapikan kembali ruang publik sekolah pasca-kegiatan menjadi poin penilaian yang krusial. Rasa antusiasme dan kegembiraan yang terpancar dari wajah anak-anak sepanjang ujian membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas fisik sama sekali tidak mengurangi kualitas proses belajar mereka.
Melalui aroma nasi goreng yang merebak di selasar sekolah hari itu, kami di SMP Kanisius Kalasan kembali menegaskan komitmen bersama. Kami percaya bahwa tugas mendidik adalah sebuah pendampingan yang utuh (cura personalis). Dengan terus berpegang pada tagline "Karakter Hebat, Prestasi Dapat", kami meyakini bahwa deru beton pembangunan di luar sekolah tidak akan pernah mampu meruntuhkan kokohnya fondasi karakter yang sedang kami bangun bersama anak-anak di dalam selasar Kanisius Kalasan.