Sengkan - “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” sebuah untaian makna yang begitu akrab, melekat dalam jiwa setiap guru. Di dalamnya tersirat panggilan untuk senantiasa berbenah, menata diri, dan bertumbuh, agar layak menjadi teladan bagi setiap langkah yang diikuti.
Sejalan dengan semangat “pembelajaran sepanjang hayat” yang digaungkan oleh UNESCO, guru dipanggil untuk tak pernah berhenti belajar dan terus menyelaraskan diri dengan perubahan zaman serta kebutuhan peserta didik yang terus berkembang.
Semangat itu pun bersemi di SD Kanisius Sengkan. Melalui kegiatan Hari Studi Guru dan Karyawan, para guru dan tenaga kependidikan meneguhkan langkahnya sebagai pembelajar sejati. Kegiatan yang difasilitasi oleh tim Diskusi Edukasi Anak yang beranggotakan Ibu Dewi Nugraheni, S.Psi, dkk dengan mengangkat tema “Kecerdasan Emosional” yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman seorang psikolog Amerika yang dalam bukunya Emotional Intelligence (1995). Kegiatan belajar yang menjadi ruang refleksi sekaligus pertumbuhan agar setiap guru dan tenaga kependidikan semakin utuh dalam hati, pikiran, dan tindakan.
Guru dan Kecerdasan Emosional
Dalam dinamika dunia pendidikan yang semakin kompleks, guru tidak hanya dituntut cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional. Mengacu pada pemikiran Daniel Goleman, kecerdasan emosional menjadi fondasi penting dalam membangun relasi yang sehat, mengelola tekanan, serta mengambil keputusan secara bijaksana.
Guru yang mampu mengenali dan mengelola emosinya akan lebih siap menghadapi berbagai situasi di kelas, sekaligus hadir sebagai pribadi yang menenangkan dan menguatkan bagi murid. Lebih dari itu, kecerdasan emosional juga menjadi jembatan dalam menumbuhkan karakter murid. Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, murid tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga pendampingan yang penuh empati dan pengertian.
Kembali Menjadi Murid
Kegiatan diawali dengan meditasi untuk membantu menyiapkan kondisi batin dan pikiran para peserta. Dinamika terus bergulir kami diajak untuk lebih dapat mengenali emosi senang, sedih, marah, dan takut. Tak berhenti sebatas mengenalinya namun lebih dalam lagi. Kami diberi waktu untuk dapat menggali hal yang dapat membuat kita merasakan emosi tersebut, teknik mengendalikan emosi tersebut, serta apa yang kita harapkan dari orang lain ketika kita merasakan emosi tersebut melalui sebuah permainan.
Sesi ini menjadi sangat menarik, hangat, sedih, dekat dan tanpa disadari karena sebetulnya “emosi itu menular”. Ketika kita mampu merasakan emosi orang lain, kita memiliki empati yang besar.
Pribadi yang Terus Berbenah dalam Praktik Sehari-hari
Setelah mengenali emosi, mencari akar emosi, cara mengendalikan, dan dampaknya kepada orang lain secara mendalam. Kami berjalan untuk belajar bagaimana relationship management ini sangat berpengaruh dalam pekerjaan kami maka diperlukan sebuah strategi untuk menghadapi sebuah konflik. Pentingnya kita melihat konflik secara utuh melalui proses berpikir THINK (True, Helpful, Inspiring, Necessary, and Kind).
Proses menjadi pembelajar sepanjang hayat tidak berhenti pada ruang pelatihan atau kegiatan refleksi semata. Justru tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana setiap pengalaman tersebut dihidupi dalam keseharian sebagai pendidik. Di ruang kelas yang dinamis, guru dihadapkan pada beragam karakter, situasi tak terduga, serta tuntutan profesional yang terus berkembang. Di sinilah kecerdasan emosional menemukan relevansinya secara nyata.
Dalam praktiknya, pembelajaran sepanjang hayat juga tercermin dalam keterbukaan untuk menerima masukan, kemauan untuk mencoba pendekatan baru, serta kerendahan hati untuk terus belajar, baik dari rekan sejawat maupun dari para murid itu sendiri. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang berjalan bersama murid dalam proses belajar.
Akhir Kata
Menjadi guru pembelajar sepanjang hayat adalah sebuah panggilan yang menuntut kesediaan untuk terus berproses. Kecerdasan emosional hadir sebagai fondasi yang meneguhkan langkah tersebut, membantu guru untuk tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga secara pribadi.
Akhirnya, perjalanan ini bukanlah tentang mencapai titik akhir, melainkan tentang kesediaan untuk terus berjalan, belajar, dan bertumbuh. Sebab sejatinya, guru yang hebat adalah mereka yang tidak pernah berhenti menjadi murid dalam kehidupannya.