Demangan Baru - Guru bukan hanya pribadi yang mengajar, tetapi juga turut belajar. Guru harus mau senantiasa belajar untuk selalu mengembangkan dan memperbarahui diri menjadi lebih baik.
Hal ini telah guru-guru Kanisius hidupi, salah satunya melalui kegiatan rekoleksi yang diikuti oleh guru kelas I dan II di Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 8-9 Mei 2026 (dan masih berlanjut secara bergantian) di wisma Sarasvita sebagai bentuk kerjasama baik antara Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta dengan Suster Agnes Samosir FCJ.
Bertajuk “Mengenal Kecerdasan Emosi dan Spiritual melalui Non-Violent Communication” ini memberikan kesempatan bagi guru untuk melengkapi diri menjadi pribadi guru yang utuh, bukan hanya cerdas secara intelektual tetapi juga emosional dan spiritual.
Suster Agnes sebagai fasilitator mengajak para guru untuk belajar melalui dinamika yang menyenangkan yaitu meditasi, bernyanyi dan bergerak, pemaparan materi, serta menjadi cermin ketika sesi sharing.
Kegiatan diawali dengan meditasi di area terbuka. Suster Agnes memandu untuk melakukan gerakan-gerakan kecil yang menjadi sarana untuk melepaskan energi negatif serta menggantinya dengan energi positif yang diperoleh dari alam sekitar. Meditasi ini diakhiri dengan 10 menit hening yang mengajak guru untuk menyelami alam pikiran serta mengenal diri lebih dalam.
Sesi berikutnya adalah pemaparan materi terkait kecerdasan emosi dan spiritual dengan Non-Violent Communication. Melalui sesi ini guru diajak untuk mengenal kekerasan yang selama ini bersembunyi dalam ucapan yang kita anggap baik dan biasa saja. Salah satunya adalah kekerasan dalam ucapan positif, seperti “Ayo, kamu pasti bisa!” yang selama ini kita anggap sebagai bentuk dukungan, nyatanya mengandung kekerasan berupa pemaksaan.
Lalu, yel-yel di awal pembelajaran yang berbunyi “luar biasa!” yang ternyata memaksa anak dan menyamaratakan keadaan hati anak menjadi “luar biasa” padahal mungkin saja ada anak yang sedang merasa sedih.
Sesi berikutnya adalah bernyanyi dan bergerak. Sesi ini bertujuan untuk membantu para guru melepaskan semua beban dan hal-hal negatif yang ingin dibuang. Lirik dalam lagu ini begitu melekat dan berkesan: “pergilah dan kubuang!” sembari para guru diminta membayangkan sesuatu yang ingin dilepaskan, seperti rasa tidak enak hati, sakit hati yang selama ini dipendam, kesedihan yang berlarut-larut, ataupun sifat-sifat kurang baik lainnya.
Sesi terakhri adalah sharing berpasangan. Melalui sesi ini, guru diajak bukan hanya membuka diri untuk berbagi cerita atau menjadi seorang pendengar yang mampu memberikan solusi dan nasihat. Justru sebaliknya, guru diajarkan hanya untuk mendengar dan menceritakan kembali persis seperti yang didengar layaknya sebuah cermin. Tidak ada penambahan atau pengurangan, tidak ada komentar, serta tidak ada saran dan nasihat. Sebab, Suster Agnes menjelaskan, tidak semua orang yang bercerita membutuhkan nasihat, mereka hanya butuh untuk didengarkan. Guru diajak untuk melakukan observasi bukan penilaian.
Sebagai penutup, Suster Agnes memberi bonus sesi, yaitu singing bowl yang dipandu oleh Ibu Ame. Para guru diajak berbaring di ruang terbuka, menutup mata, dan mendengarkan suara dari mangkuk-mangkuk kecil yang dipukul. Nampaknya sesi ini menjadi penutup yang tepat, sebab beberapa guru sampai terbawa ke alam mimpi.
Melalui kegiatan ini, para guru menyampaikan bahwa mereka mampu belajar mengenai banyak hal. Pertama, rasa cinta kepada diri sendiri yang ternyata selama ini banyak terabaikan sebab rutinitas yang telah banyak menyita waktu. Kedua, para guru menyadari bahwa ternyata tanpa sadar masih melakukan kekerasan di balik kata-kata positif yang sebenarnya dimaksudkan untuk hal baik. Ketiga, belajar untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, alam, dan tubuh yang selama ini telah menyertai dan menjadikan diri kita yang sekarang.