Pagi ini, Jumat, 10 April 2026. Langit pagi terlihat cerah. SD Kanisius Girisonta memulai langkahnya dengan ritme yang tenang namun penuh tenaga. Hari Jumat kedua ini bukan sekadar berisi rutinitas kesehatan fisik, melainkan sebuah perjalanan untuk menyelaraskan tubuh, jiwa, dan alam.
Segala aktivitas hari ini dimulai dengan renungan pagi yang teduh. Para murid diajak menata niat dan menenangkan batin. Setelah acara renungan selesai anak-anak tumpah ruah di lapangan dalam gerak dinamis senam "Anak Indonesia Hebat". Setelahnya, anak-anak menerima bekal perlindungan diri melalui penyampaian materi safeguarding.
Bagi anak-anak kelas VI, kegiatan hari ini membawa makna yang jauh lebih dalam. Anak-anak kelas VI sebenarnya sedang sibuk dengan berbagai persiapan akademis yang menguras energi, seperti TKA, PSAJ, dan ujian praktik yang melelahkan. Tetapi untuk sementara dinding kelas sejenak mereka tinggalkan. Bersama Bruder Hadi Prayitno SJ, mereka melangkah keluar bukan untuk bermain tanpa arah, melainkan untuk menemui "guru sejati" bernama alam.
Di komunitas SD Kanisius Girisonta ini, ilmu tentang alam bukan lagi sekadar teori. Anak-anak merasakan dan mengalami secara nyata relasi dengan alam ciptaaan Tuhan. Hubungan antara manusia dan lingkungannya tidak lagi sekadar deretan kalimat di buku cetak. Anak-anak belajar merasakan desir angin. Anak-anak mengamati tarian serangga kecil di balik dedaunan.
Anak-anak juga mengenali tanaman yang tumbuh bersahaja namun kaya manfaat. Mereka belajar dari pohon pisang yang tulus memberikan segalanya, mulai dari daun hingga buahnya. Mereka pun belajar dari tanaman lidah buaya yang hadir menyembuhkan luka dan memberikan kesejukan. Alam seolah berbisik kepada mereka bahwa kehidupan adalah sebuah jejaring yang saling menjaga.
Puncak dari pembelajaran ini adalah kegiatan berefleksi. Di taman yang asri itu, setiap anak diminta mencari satu benda alam yang melambangkan diri mereka sendiri. Momen ini menjadi dialog sunyi yang puitis antara anak dan jiwanya.
Ada yang memungut batu yang keras sebagai simbol keteguhan hati. Ada yang memilih bunga yang mulai mekar sebagai lambang harapan yang tumbuh. Lalu mereka mempresentasikan pilihan tersebut di hadapan Bruder Hadi dan teman-temannya. Di momen inilah mereka sebenarnya sedang merajut jati diri, melatih keberanian berbicara, dan memupuk kerendahan hati untuk menerima tanggapan orang lain.
Kegiatan ini menitipkan satu pesan kuat: bahwa belajar yang paling bermakna adalah saat hati merasa gembira. Melalui pengalaman nyata ini, rasa kagum terhadap ciptaan Tuhan bertransformasi menjadi sikap peduli yang tulus. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dilakukan dengan perbuatan sangat sederhana. Misalnya, tindakan tidak mengotori taman adalah salah satu bentuk tertinggi dari cinta kepada kehidupan. Di sini, guru hadir bukan sebagai penguasa kelas, melainkan pembimbing yang berjalan beriringan dengan rasa ingin tahu anak.
SD Kanisius Girisonta tetap terus membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak harus selalu kaku. Dengan membiarkan anak-anak menyentuh tanah dan menatap langit, mereka tidak hanya dipersiapkan untuk lulus ujian sekolah. Anak-anak itu terutama dipersiapkan untuk mencintai dunia yang nantinya akan mereka jaga.
Pengalaman hari ini memberikan kepada anak-anak tabungan bekal abadi, bahwa seberat apa pun tantangan di masa depan, selalu ada ruang untuk tumbuh, bersyukur, serta kembali ke pelukan alam yang hangat dan penuh kasih.