Pertemuan APP yang pertama untuk remaja kali ini (Jumat, 28 Februari 2026), mengajak kita untuk memiliki kepedulian kepada orang lain. Kata peduli dalam KBBI berarti memperhatikan, menghiraukan dan mengindahkan. Saya akan berbagi refleksi perihal perjalananku sebagai guru di SMP Kanisius Wonosari.
Perjalananku sebagai guru di SMP Kanisius Wonosari masih terbilang singkat, tetapi aku merasa banyak belajar dari anak-anak untuk memiliki kepedulian. Aku belajar untuk peduli pada anak-anak, tidak hanya sekedar mengajar menyampaikan materi saja.
Dalam mengajar dan berelasi dengan anak-anak, aku dihadapkan dengan berbagai realitas; anak-anak yang ramai saat gurunya menjelaskan, anak-anak yang membantah gurunya saat menegur, anak-anak yang baperan, cari perhatian, selalu diam dan tidak bisa bergaul dengan temannya, anak-anak yang malas mencatat, malu bertanya, takut dengan gurunya, anak-anak yang sulit memahami materi, yang sering. Hal tersebut membuatku tergerak untuk peduli, memperhatikan, menasihati, membimbing dan mendampingi mereka.
Namun, kadang, saking kesalnya, saking capeknya, saking ngeselinnya anak-anak, saking ada masalah pribadi, aku memilih diam, tidak peduli terhadap mereka. Aku memilih tidak memperhatikan mereka, tidak mengingatkan mereka, tidak membimbing mereka dan tidak menemani mereka.
Melalui bacaan Kitab Suci yang kita dengar pada pertemuan APP untuk remaja ini, seakan aku ditampar. Aku diajak untuk memiliki kepedulian kepada anak-anak yang membutuhkan bantuan, perhatian, bimbingan dampingan dan nasihat. Melalui bacaan orang Samaria yang baik hati, setidaknya ada 3 poin yang diperlukan dalam mengembangkan sikap peduli, yakni belas kasih, sikap mendekat, dan berkorban.
Untuk peduli dibutuhkan rasa belas kasih pada orang lain. Sikap belas kasih mendorong untuk mengamalkan kasih dalam kehidupan kita, mendorong sikap melayani dan menghadirkan suka cita dengan menjadi saksi hidup yang membawa harapan dan kebaikan. Orang Samaria mau membantu orang yang terluka di jalan karena didasarkan oleh rasa belas kasihan.
Untuk peduli dibutuhkan pula kedekatan atau tindakan mendekat, baik fisik dan atau batin. Kepedulian kita tumbuh karena ada kedekatan batin terhadap sesama kita yang butuh bantuan dan perhatian. Kepedulian kita juga akan tumbuh ketika kita dekat secara fisik terhadap orang yang butuh diperhatikan. Orang Samaria mau membantu orang yang terluka dengan mendekati orang tersebut, tidak seperti imam dan lewi yang malah menjauhi orang yang butuh bantuan tersebut.
Untuk peduli juga dibutuhkan pengorbanan. Tindakan kepedulian kita memerlukan sikap mau berkorban, berkorban waktu, tenaga, pikiran dan bahkan uang atau materi yang kita miliki. Orang Samaria membantu orang yang terluka dengan mengorbankan waktunya, rela berhenti dari perjalanannya, mengorbankan tenaga, dengan menaikkan orang itu ke atas keledai dan membawa ke penginapan, dan juga rela mengorbankan materinya, dengan menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan guna merawat orang yang terluka itu.
Maka, mari anak-anak milikilah kepedulian terhadap sesamamu. Perhatikan teman-teman di sekitarmu, tidak perlu muluk-muluk, seperti ada teman yang tidak bawa bekal, dipinjami syukur diberi; ada yang kesulitan dalam memahami materi, dibantu-dibimbing; ada yang menyendiri, ditemani; ada yang sedih, dihibur; kelasnya kotor, dibersihkan tidak harus menunggu yang piket atau menunggu disuruh gurunya; gurunya menjelaskan, diperhatikan. Kita diajak menaruh perhatian pada sesama, dengan tergerak oleh belas kasihan Allah, memiliki kedekatan fisik atau batin pada orang yang membutuhkan bantuan, juga siap berkorban.