Gerimis turun pelan sore itu. Di depan gerbang Kampus Kanisius Sukorejo, Kamis, 26 Februari 2026, sekitar pukul 15.00 WIB, langkah-langkah kecil bergerak lincah. Tangan-tangan mungil menata paket takjil, sementara senyum tulus siap dibagikan bersama makanan berbuka.
Sore itu bukan sekadar tentang takjil. Ia adalah cerita tentang kepedulian. Tentang hati yang memilih untuk berbagi, meski berbeda keyakinan. Keluarga besar KB, TK, SD, dan SMP Kanisius Sukorejo bersama para orang tua murid menyatu dalam satu niat yakni menghadirkan kegembiraan sederhana bagi saudara-saudari Muslim yang sedang menanti waktu berbuka puasa di bulan suci Ramadan.
Keluaraga besar Kanisius Sukorejo percaya bahwa pendidikan tak berhenti pada huruf dan angka. Ia hidup dalam sikap, tumbuh dalam empati, dan berakar pada toleransi. Sebagai sekolah universal yang terbuka bagi siapa pun tanpa memandang suku, agama, dan ras, nilai-nilai itu menjelma nyata di pinggir jalan yang basah oleh hujan.
Seminggu sebelum hari pelaksanaan para pengurus OSIS menggerakkan hati teman-temannya untuk menyisihkan sedikit uang saku, dan sebuah momen yang bersamaan ketika anak-anak Kanisius juga sedang melaksanakan puasa dan pantang di masa prapaskah. Tanpa aba-aba, para orang tua murid pun dengan sukarela ikut menyambut ajakan itu, menyumbangkan makanan yang diolah dengan tangan dan hati penuh cinta.
Saat sore menjelang, para guru, karyawan, dan Tim OSIS bahu-membahu menyiapkan meja dan paket ta’kjil. Gerimis turun, namun semangat justru menyala. Anak-anak berdiri di tepi jalan, menyapa para pengendara yang melintas. Takjil berpindah tangan, senyum pun berbalas senyum. Dalam hitungan menit, puluhan paket habis dibagikan.
“Kegiatan ini merupakan aplikasi nyata dari toleransi yang diajarkan kepada anak-anak Kanisius. Mereka tidak hanya belajar tentang toleransi, tetapi juga mempraktikkannya dengan tulus,” ujar Miss Ade, selaku PIC kegiatan, dengan mata yang berbinar.
Sore itu, meja boleh kosong, namun hati penuh suka. Di bawah gerimis yang setia menemani, murid-murid Kanisius Sukorejo kembali belajar satu hal penting bahwa ketika kita berbagi kita tidak kehilangan namun kita justru memperoleh lebih banyak.