Jimbaran, 12 Maret 2026. Bulan Ramadhan adalah bulan puasa yang dipenuhi dengan kebaikan. Salah satu cara untuk berbagi kebaikan adalah dengan berbagi takjil. Takjil yang dibagikan bukan sekedar es buah berbuka puasa tetapi sebagai simbol kepedulian, toleransi, dan kebaikan.
Sekolah kami, TK dan SD Kanisius Jimbaran, rutin mengajak anak-anak untuk mempunyai rasa peduli dan toleransi terhadap sesama yang sedang berpuasa, baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar sekolah kami. Dengan berbagi takjil, kami ingin menumbuhkan rasa peduli dan rasa toleransi anak-anak terhadap teman-teman dan lingkungan sekitar.
Selain rasa peduli dan toleransi, berbagi takjil adalah simbol kebaikan. Kebaikan yang dapat kami lihat ketika anak-anak memberikan takjil ataupun senyuman kepada masyarakat sekitar yang menerima. Anak-anak “Kajimba” (red. Kanisius Jimbaran) merasa senang dapat membagikan takjil kepada masyarakat sekitar. Ada kata terima kasih yang terucap. Ada senyuman yang terlihat ketika menerima. Ada pula kepuasan hati ketika memberi.
Kami berbagi takjil di jalan masuk menuju sekolah. Anak-anak dan bapak ibu guru dibantu Pak Padi mengatur lalu lintas karena kebetulan jalan tersebut ramai berbarengan dengan jam pulang kerja dan jam menjelang buka puasa. Memang tidak semua anak TK-SD Kanisius Jimbaran bisa membagikan takjil. Kami diwakili oleh beberapa anak, tetapi tidak mengurangi maknanya. Tidak sampai 1 jam, 100 cup es buah yang kami siapkan sudah ludes. Anak-anak terlihat antusias ketika membagi dan sangat bersemangat. Kami berharap ketika dewasa nanti, mereka menjadi terbiasa berbagi terhadap sesama yang kurang beruntung karena sejak kecil sudah ditanamkan rasa peduli.
Selesai berbagi takjil di jalan, kami melanjutkan dengan acara pesantren kilat. Pesantren kilat diawali doa secara agama Islam yang dipimpin oleh salah satu guru kami, Ibu Alfira. Yang membuat spesial kali ini adalah Bapak Ari Rahmat sebagai narasumber memberikan pengetahuan mengenai bagaimana cara berpuasa yang benar dan pahala yang didapat ketika berpuasa menggunakan alat peraga wayang. Sebagian besar anak-anak berpuasa full dan jarang ada yang mokel (tidak kuat berpuasa sampai magrib dan harus berbuka sebelumnya). Ada pula anak-anak kelas 1 dan kelas 2 yang berpuasa dengan cara: siang hari berbuka dan dilajutkan puasa lagi, dan ketika magrib mereka berbuka lagi.
Dari sini saya belajar bahwa puasa dimulai dari yang ringan kemudian baru yang berat dan anak-anak pun bisa melakukan dengan baik. Anak-anak memperhatikan apa yang disampaikan Pak Ari dengan pendampingan dari bapak ibu guru. Ketika waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB, anak-anak sudah tidak sabar untuk berbuka. Kami mengawali dengan doa sebelum berbuka puasa.
Perlu diketahui bahwa sebagian besar murid TK-SD Kanisius Jimbaran beragama Islam. Untuk itu, setiap seminggu sekali di sekolah ada BTQ (Baca Tulis Al Quran). Untuk melengkapinya, kami rutin melaksanakan berbagi takjil dan buka bersama dengan seluruh murid. Kami ingin menanamkan nilai toleransi dan kepedulian melalui hal-hal yang sederhana yang akan menjadi budaya baik. Harapannya adalah ketika mereka lulus, anak-anak Kanisius Jimbaran mempunyai karakter yang kuat sesuai dengan 5 (lima) nilai Kanisius yaitu Keunggulan, Kedisiplinan, Kepedulian, Kejujuran, dan Kemerdekaan dalam belajar.
Berbagi takjil, pesantren kilat, dan buka puasa bersama adalah sarana kebaikan, terutama di Bulan Suci Ramadhan. Kebaikan yang dibagikan akan menular dan akan ada kebaikan-kebaikan lainnya yang menanti. Selamat berpuasa teman-teman muslimku. Tuhan memberkati untuk menjadi berkat.