Dalam rangka menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan serta memperkuat nilai-nilai spiritual dan kebersamaan, SD Kanisius Bantul berkolaborasi dengan Ibu Emilia Ninus Pamiarsi, Sr. Agnes Dinihari Yulian FCJ, dan Sr. Maria Irene Indrayanti FCJ mengadakan kegiatan rekoleksi bertema “Menjadi Pribadi yang Bertanggung jawab dan Harmonis dengan Alam” pada hari Senin, 27 Oktober 2025 bertempat di pendopo Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran. Salah satu kegiatan menarik yang dilakukan dalam rekoleksi kali ini adalah praktik membuat eco enzyme — cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik yang bermanfaat bagi lingkungan.
Apa Itu Eco Enzyme?
Eco enzyme merupakan cairan alami hasil fermentasi dari kulit buah, gula, dan air, yang dapat digunakan sebagai pembersih alami, pupuk cair, hingga pengusir serangga ramah lingkungan. Pembuatan eco enzyme mengajarkan anak-anak untuk mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang berguna, sekaligus menanamkan kebiasaan untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Tujuan Kegiatan Rekoleksi
Kegiatan rekoleksi kali ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengalaman rohani dan kebersamaan bagi siswa-siswi, tetapi juga: menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini, melatih tanggung jawab dan kerja sama antar-siswa dan mendorong siswa untuk menghargai ciptaan Tuhan melalui tindakan nyata menjaga lingkungan.
Langkah-Langkah Membuat Eco Enzyme
Dalam kegiatan ini, anak-anak dibimbing oleh para guru dan Suster FCJ. Mereka membawa bahan-bahan sederhana seperti: kulit buah (jeruk, semangka,mangga, dll), gula merah atau molase / EM4, air bersih, dan botol plastik bekas.
Prosesnya pun seru! Setiap kelompok mencampurkan bahan-bahan dengan perbandingan 1 bagian gula: 3 bagian sampah organik: 10 bagian air, lalu mengaduknya sambil belajar tentang proses fermentasi alami. Botol-botol yang sudah diisi kemudian diberi label nama kelompok dan tanggal pembuatan untuk dipantau hingga 3 bulan ke depan.
Nilai-Nilai yang Dipelajari
Melalui kegiatan sederhana ini, anak-anak belajar banyak hal: a) sabar dan telaten, karena eco enzyme memerlukan waktu fermentasi; b) kerja sama, karena pembuatan dilakukan secara berkelompok; c) cinta lingkungan, dengan menyadari bahwa sampah bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat; dan d) syukur kepada Tuhan, karena semua bahan berasal dari alam ciptaan-Nya.
Dampak dan Harapan
Hasil dari eco enzyme yang dibuat akan digunakan kembali di lingkungan sekolah sebagai pembersih alami dan pupuk tanaman sekolah. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pembelajaran satu hari, tetapi juga menjadi gerakan berkelanjutan menuju sekolah hijau dan beriman. “Melalui kegiatan ini, kami ingin anak-anak belajar bahwa menjaga bumi adalah bagian dari bentuk kasih kepada Tuhan dan sesama,” ujar Ibu Christiana Winarsih, S.Pd.
Dengan semangat gembira dan penuh rasa ingin tahu, anak-anak pulang dengan pengalaman berharga — bahwa dari sampah pun, kebaikan bisa tumbuh.