Guru dan karyawan SMP Kanisius Kalasan menegaskan komitmen mereka terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan rekoleksi dan workshop intensif bertema "Laudato Si' dan Pertobatan Ekologis". Kegiatan yang dilaksanakan merupakan wujud nyata dalam menanggapi seruan Paus Fransiskus untuk merawat "Rumah Kita Bersama".
Rekoleksi ini menjadi momentum krusial, mengingat SMP Kanisius Kalasan berada di tengah area yang mengalami pengembangan signifikan yaitu pembangunan jalan tol dan keberadaan Gereja Maria Marganingsih Kalasan. Dinamika pembangunan ini menuntut kesadaran ekologi integral, yakni melihat krisis lingkungan tidak terlepas dari krisis sosial dan spiritual.
Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh guru dan karyawan sekolah ini diisi oleh narasumber yang kredibel dalam bidang ekologi spiritual, yaitu Suster Meta, FCJ, dan Suster Agnes, FCJ, dari Kongregasi Sahabat Setia Yesus (Faithful Companions of Jesus). Kegiatan ini diawali dengan doa dan pembacaan kitab suci dari Kejadian 1:1-31 yang dilanjutkan dengan pendalaman ajakan Paus Fransiskus untuk merawat bumi. Pengamatan akan kondisi alam sekitar menjadi langkah yang dilakukan sebelum pada akhirnya menuntun pada refleksi “dunia macam apa yang akan kita wariskan kepada generasi masa depan dan kepada anak-anak yang sedang tumbuh?"
Suster Meta dan Suster Agnes mengajak peserta untuk tidak hanya memahami Laudato Si' sebagai dokumen gereja, tetapi sebagai peta jalan menuju pertobatan ekologis yang dimulai dari pilihan hidup sehari-hari. Diskusi mendalam mengenai keterkaitan antara gaya hidup, konsumerisme, dan kerusakan alam menjadi fokus utama, memicu refleksi diri di kalangan staf pendidik.
Bagian paling menarik dari rekoleksi ini adalah workshop ekologi yang bersifat sangat praktis. Guru dan karyawan diajak terlibat langsung dalam upaya memanfaatkan limbah rumah tangga, khususnya melalui praktik pembuatan sabun ramah lingkungan dari eco-enzim dan edukasi pengurangan sampah. Praktik ini menguatkan pemahaman bahwa upaya menjaga lingkungan adalah bagian dari kurikulum dan spiritualitas sekolah.
Sebagai hasil konkret dari kegiatan ini, seluruh guru dan karyawan SMP Kanisius Kalasan bersepakat dan berkomitmen untuk menjalankan tiga pilar aksi nyata secara konsisten antara lain (1) mengawal penerapan zero waste dan pengurangan sampah yang sudah dilaksanakan mulai tahun ajaran 2024/2025 supaya semakin optimal; (2) budaya tumbler; (3) menanam dan merawat tumbuhan serta keanekaragaman hayati lokal.
"Sebagai guru IPA, saya melihat bahwa isu lingkungan bukan hanya materi pelajaran, tetapi juga panggilan moral. Kegiatan ini menyadarkan kami bahwa pertobatan ekologis harus dimulai dari hati, berlanjut ke kebiasaan di ruang guru, dan kemudian kami bawa ke dalam kelas. Kami berharap komitmen zero waste, penggunaan tumbler, dan budaya merawat tanaman ini tidak hanya menjadi program, tetapi identitas baru bagi SMP Kanisius Kalasan, sekolah di tengah area perkembangan yang harus tetap berpihak pada keseimbangan alam." Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi SMP Kanisius Kalasan untuk bertumbuh menjadi Sekolah Berwawasan Ekologi Integral, melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli dan bertanggung jawab atas “Rumah Kita Bersama”.