Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia, SMK SPP KANISIUS AMBARAWA mengadakan rangkaian kegiatan.
Agenda kegiatan yang pertama adalah mengadakan seminar HPS dengan tema "Wirausaha Pertanian Tanaman Pangan di Era Milineal" dengan narasumber bapak Widodo Pramukanto. Beliau adalah seorang guru dan sekaligus enterpreneur dan wirausahawan yang berhasil di bidang pertanian dan bisnis. Anak- anak dapat belajar tentang bagaimana jiwa wirausaha dapat dipupuk dan dikembangkan; bagaimana kita dapat membaca dan sekaligus memanfaatkan peluang bisnis yang ada. Banyak orang berbicara tentang usaha bisnis namun terkadang kurang tanggap atau tidak bisa membaca peluang bisnis yang ada. Di sini kita belajar bagaimana untuk menyikapi peluang yang ada dengan kepekaan dan menjalin hubungan relasi dengan semua pihak. Kurangnya modal bukanlah menjadi kendala yang utama, selama kita mau berusaha di situ akan ada jalan.
Agenda yang kedua adalah lomba kebersihan di lingkungan kelas dan sekolah. Agenda ketiga adalah lomba memasak dan membuat tumpeng. Lomba selanjutnya adalah membuat flyer dan poster, membuat majalah dinding, lomba game ML dan FF.
Untuk lomba memasak terbagi menjadi dua perlombaan, yakni membuat tumpeng dan makanan olahan non-beras, dengan menggunakan dengan filosofi Tumpeng Robyong sebagai berikut.
Makna Tumpeng dan Unsur-Unsurnya
Tumpeng berbentuk kerucut yang melambangkan gunung (Mahameru), sebuah simbol sakral dalam budaya Jawa. Gunung dipandang sebagai pusat kehidupan spiritual, tempat di mana Tuhan, leluhur, dan dewa-dewa bersemayam. Bentuk kerucut ini juga melambangkan hubungan antara makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (kehidupan individu), mengingatkan kita akan pentingnya keseimbangan antara manusia dan alam.
Nasi tumpeng yang berwarna putih melambangkan kesucian dan kebersihan. Proses memasak nasi yang dimulai dengan mencuci beras hingga bersih menjadi simbol bahwa rejeki yang kita peroleh harus halal dan diperoleh melalui kerja keras yang jujur. Ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap langkah hidup, kita harus menjalani kehidupan yang murni dan bermartabat.
Makna Sayur dan Lauk dalam Tumpeng
Gudangan atau Urap itu melambangkan kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam bahasa Jawa, ada ungkapan “urip iku urub,” yang berarti hidup yang bermanfaat, menyala, dan memberi terang bagi sesama.
Kangkung merupakan simbol cita-cita dan harapan yang terjangkau. Kemudian Ikan Teri melambangkan pentingnya kebersamaan dan kekompakan dalam keluarga. Cabe Merah melambangkan semangat yang membara menjalani kehidupan.
Selanjutnya Bayam yang merupakan simbol ketenteraman dan kesejahteraan dalam keluarga. Kacang Panjang menggambarkan pemikiran yang panjang dan jauh ke depan. Akhirnya, Taoge melambangkan tunas harapan untuk generasi baru.
Tumpeng Robyong: Wujud Keselarasan dengan Alam
Salah satu makna mendalam dari Tumpeng Robyong adalah kesadaran akan keterikatan kita dengan alam. Tumpeng dihias dengan buah-buahan sebagai simbol harapan bahwa setiap langkah hidup akan berbuah manis. Filosofi ini mencerminkan doa agar setiap manusia, seperti anak yang baru lahir, akan selalu didukung oleh alam dalam menjalani kehidupan yang harmonis.
Dalam kehidupan sehari-hari, Tumpeng Robyong mengajarkan kita untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan alam semesta. Manusia terbentuk dari empat elemen alam—tanah, air, udara, dan api—dan sebagai makhluk ciptaan, kita diingatkan untuk merawat alam demi keseimbangan dan kelangsungan hidup bersama.