Pada hari Kamis, 16 Oktober 2025, halaman SD Kanisius Pulutan dipenuhi aroma singkong kukus dan tawa riang anak-anak. Seluruh murid kelas 1 sampai 6, bersama bapak dan ibu guru, merayakan Hari Pangan Sedunia dengan cara yang unik dan edukatif: membuat gethuk khas Gunungkidul dari bahan dasar singkong.
Kegiatan ini menjadi momen berharga untuk mengenalkan pangan lokal yang sederhana, bergizi, dan penuh nilai budaya. Perayaan dimulai dengan doa Rosario bersama, sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas berkat bumi dan hasil panen yang melimpah. Setelah itu, para guru memberikan pemaparan tentang makna Hari Pangan Sedunia dan pentingnya mengenal tanaman lokal, khususnya singkong yang menjadi sumber pangan utama masyarakat Gunungkidul. Anak-anak mendengarkan dengan antusias, lalu bersemangat ketika tiba saatnya untuk praktik langsung. Dalam kelompok kecil, mereka belajar mengupas dan mengukus singkong, memarut kelapa, hingga menumbuk singkong yang sudah matang. Keceriaan tampak di wajah mereka ketika adonan sederhana itu berubah menjadi kudapan manis yang mereka buat sendiri, gethuk Gunungkidul.
Setelah semua siap, anak-anak bersama guru duduk melingkar dan menikmati hasil karya mereka dengan penuh syukur. Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menjadi pengalaman belajar yang bermakna dalam semangat Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR). Melalui pendekatan context–experience–reflection–action–evaluation, murid diajak untuk tidak sekadar tahu, tetapi sungguh mengalami dan merenungkan nilai di balik proses. Dari bahan singkong yang sederhana, mereka belajar tentang kerja keras petani, pentingnya menghargai pangan, serta makna kebersamaan dan rasa syukur atas berkat Tuhan.
Guru dan murid sama-sama menyadari bahwa pendidikan sejati tumbuh dari pengalaman konkret yang membentuk hati, bukan hanya pikiran. Membuat gethuk bersama ternyata menjadi pelajaran iman dan karakter: bahwa hal kecil bisa menghadirkan sukacita besar bila dilakukan dengan cinta dan rasa syukur. Hari itu, bukan hanya perut yang kenyang, tetapi hati pun penuh karena dari sepotong gethuk, anak-anak belajar mencintai bumi, menghargai sesama, dan merasakan kasih Tuhan yang nyata dalam keseharian.