Yogyakarta - Seminar implementasi Laudato Si’ telah dilaksanakan di aula Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta pada hari Jumat, 4 September 2026. Ketua Laudato Si’ Indonesia, Cyprianus Lilik Krismantoro Putro merupakan narasumber kegiatan ini. Semua Kepala TK, SD, dan SMP Kanisius Se-DIY mengikuti seminar dengan fokus, penuh semangat, dan gembira. Hal ini tampak dari raut wajah peserta seminar senantiasa berseri-seri tanpa dihantui rasa ngantuk sedikit pun. Peserta seminar juga aktif bertanya maupun menanggapi terkait materi dari narasumber.
Surat ensiklik kedua dari Paus Fransiskus yang diterbitkan pada tanggal 18 Juni 2015, dengan subjudul "On the Care for Our Common Home" berbicara entang Kepedulian untuk Rumah Kita Bersama. Dalam ensiklik ini, Paus Fransiskus menegaskan bahwa krisis iklim adalah cermin dari krisis moral dan spiritual. Umat Katolik diajak oleh Paus Fransiskus untuk melakukan pertobatan ekologis demi kemaslahatan alam dan seluruh umat manusia.
Bumi, rumah kita bersama benar-benar menjerit akibat kerusakan. Kerusakan itu berasal dari paradigma teknorasi modern dan eksploitasi alam tanpa batas oleh manusia. Krisis lingkungan tentu tak terpisahkan dari krisis sosial. Penderitaan kaum miskin merupakan wajah nyata dari kegagalan kita merawat alam.
Paus Fransiskus mengajak kita semua, umat di dunia ini mau terlibat dalam dialog universal dan aksi kolektif demi membangun masa depan yang adil serta memelihara keindahan ciptaan untuk generasi yang akan datang.
Menurut Cyprianus Lilik Krismantoro Putro, Kepala Sekolah hendaknya bertindak sebagai katalisator utama dan memimpin dengan keteladanan harian (lead by example). Hal ini pun menjadi pegangan bagi Kepala Sekolah Kanisius se-DIY.
Menjadi sosok teladan, bukanlah hal yang mudah. Tentu sangat mudah dikatakan, namun sulit dilakukan. Namun Kepala Sekolah harus terus berusaha agar jadi teladan harian setiap saat penuh kesadaran disertai hati.
Kunci Sekolah Hijau ada lima elemen, yaitu kebijakan operasional, fasilitas kampus, integrasi kurikulum, spiritualitas harian, serta kemitraan komunitas. Sekolah Hijau bukan sekedar program ad-hoc, tidak direduksi sebatas kegiatan pemilahan sampah maupun komposting sporadis. Lingkungan fisik sekolah sebaiknya dirombak total agar berfungsi sebagai alat bantu mengajar. Pengalaman belajar sebagai keberlanjutan akan lebih bermakna bagi para murid. Tentu ada hubungan antara tata ruang, fasilitas operasional, dan habituasi harian ke dalam satu ekosistem belajar yang utuh.
Afeksi dan sensori, pembentukan kebiasaan, serta analisis kritis dan aksi sosial. Itulah fokus kapasitas dari jenjang TK/PAUD sampai SMP. Bentuk aksi dan habituasi ekologis pun berbeda. Jenjang TK dengan pembiasaan sensori, menumbuhkan rasa cinta alam, menyapa tanaman, dan pemisahan jenis sampah dasar melalui bentuk permainan. Jenjang SD dengan pemilahan sampah mandiri, Gerakan hemat energi hemat air, pemeliharaan kebun sekolah, dan pengurangan plastik sekali pakai. Lain halnya dengan jenjang SMP tentunya. Riset dampak lingkungan lokal, pembelajaran berbasis proyek komunitaris, analisis jejak karbon, serta advokasi kebijakan publik.
Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi lahan, pencemaran global, dan degradasi lautan. Itulah lima krisis ekologi utama yang perlu mendapat perhatian khusus demi keberlanjutan kehidupan. Alur Laudato Si’, melihat, berpikir, serta melakukan bersama. Hal ini perlu dipahami serta dilakukan bersama-sama secara konsisten demi generasi mendatang.
Dengan mengikuti seminar ini, Kepala Sekolah menjadi lebih paham cara implementasi Laudato Si’ di sekolah. Kepala Sekolah hendaklah menjadi penggerak dan teladan implementasi Laudato Si’, sehingga terwujud sekolah hijau dan cinta bumi.
Usai seminar, Kepala Sekolah membuat program implementasi Laudato Si’ di sekolah masing-masing. Program ini tentu dilaksanakan bersama oleh seluruh warga sekolah. Hal ini tentu akan berdampak pada kemajuan sekolah Kanisius serta meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada sekolah Kanisius. Hidup Sekolah Kanisius!