Kalasan - Pendidikan di lingkungan Yayasan Kanisius tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter utuh yang berakar pada ketajaman batin. Prinsip ini diwujudkan secara nyata oleh SMP Kanisius Kalasan melalui penguatan spiritualitas Ignasian pada agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Dalam rangkaian pembekalan murid baru kelas 7, SMP Kanisius Kalasan menggelar sesi khusus pengenalan dan penyegaran konsep Examen Conscientiae serta Pembedaan Roh (Discernment). Sesi pembekalan ini diampu oleh Ibu Heffi Widyaningrum dan Bapak Daniel Damar Fajar Panuntut.
Pengenalan latihan rohani ini menjadi langkah strategis sekolah untuk memastikan bahwa nilai-nilai dasar Kanisius dapat terinternalisasi sejak awal murid menapakkan kaki di jenjang sekolah menengah. Praktik examen sendiri telah menjadi bagian dari dinamika pembiasaan di SMP Kanisius Kalasan selama dua tahun terakhir dan terbukti membawa dampak positif terhadap perkembangan perilaku serta kematangan emosional para murid kelas 8 dan 9.
Ibu Heffi dan Pak Fajar menegaskan kepada para murid baru bahwa manusia hidup dalam dinamika keputusan yang terus-menerus. Setiap hari, murid dihadapkan pada pilihan-pilihan kecil yang memengaruhi pikiran, kata-kata, dan perbuatan mereka. Oleh karena itu, refleksi harian menjadi sarana 'servis batin' yang sangat vital agar murid tidak kehilangan arah di tengah kesibukan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, tim pemandu menjelaskan lima tahap examen yang diawali dengan ungkapan syukur atas rahmat harian, permohonan terang rohani, pemeriksaan pikiran, perkataan, serta perbuatan, permohonan ampun, hingga diakhiri dengan niat memperbarui diri. Murid diajak untuk menjadwalkan jeda refleksi ini sebanyak dua kali sehari, yakni pada siang hari untuk meninjau setengah perjalanan hari, dan pada malam hari sebelum tidur.
Sesi ini juga memperdalam pemahaman murid mengenai pembedaan roh. Para murid diajak membedakan mana dorongan yang mengarahkan pada kebaikan dan mana yang mengarahkan pada kelemahan diri. Contoh-contoh aplikatif disampaikan, seperti membangun kebiasaan mendengar tanpa menghakimi, menjadi sukarelawan kebaikan, serta menghargai sesama. Di sisi lain, hal-hal seperti kemarahan fisik maupun verbal, ketagihan hp, membolos, tidak mengerjakan tugas sekolah, dan sikap egois diidentifikasi sebagai dorongan negatif yang harus dipotong (pruning).
Melalui pendampingan yang intensif dan komunikatif ini, SMP Kanisius Kalasan membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan batin, kedisiplinan diri, serta karakter yang berlandaskan pada nilai-nilai Kanisius dan semangat competence, compassion, conscience, dan commitment.