Yogyakarta – Dalam rangka memperkuat pilar penanaman karakter dan membangun kemitraan strategis yang berkelanjutan dengan lingkungan keluarga, satuan pendidikan SMP Kanisius Kalasan sukses melaksanakan kegiatan Parenting khusus bagi Orang Tua Murid Kelas 7 pada Sabtu, 11 Juli 2026. Kegiatan edukatif yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB ini mengambil tema sentral "Relasi dan Komunikasi Pondasi Dalam Keluarga." Forum ini diselenggarakan sebagai langkah preventif sekaligus pembekalan bagi orang tua dalam menghadapi fase perkembangan psikososial anak usia remaja awal.
Acara dibuka secara resmi dengan doa yang dibawakan oleh Ibu Theresia Yuliastutie dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya demi memupuk rasa nasionalisme. Kepala Sekolah SMP Kanisius Kalasan, Bapak Andrias Indra Purnama, S.T., S.Pd., dalam sambutan utamanya menyampaikan laporan mengenai komitmen lembaga untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan melalui sinergi yang kokoh bersama para orang tua murid. Menurut beliau, komunikasi yang searah antara sekolah dan rumah adalah kunci utama agar proses penanaman moralitas dan pencapaian akademik anak dapat berjalan selaras tanpa adanya tumpang tindih ego sektoral.
Penyerahan Murid Baru Kelas 7
Agenda kedinasan yang tidak kalah penting dalam acara ini adalah prosesi penyerahan murid baru kelas 7. Secara simbolis, Ibu Mantik Cinderara (orang tua dari siswa Mikael Dastanelo) bertindak mewakili seluruh wali murid untuk menyerahkan putra-putrinya kepada pihak sekolah. Dalam penyampaiannya, perwakilan orang tua menitipkan pesan mendalam agar aspek perkembangan moralitas anak mendapat porsi pendampingan yang utama di lembaga pendidikan ini. Penyerahan tersebut disambut dan diterima secara resmi oleh pihak kepala sekolah dengan komitmen keterbukaan yang tinggi.
Sosialisasi Parenting
Sebagai bentuk fasilitasi mutu pengasuhan, pihak sekolah menghadirkan pakar psikologi dan komunikasi, Ibu F. Netty Kuswandari, M.Si., sebagai narasumber tunggal. Dalam jabarannya, Ibu Netty menjelaskan secara komprehensif bahwa remaja SMP berada pada fase transisi mencari identitas diri yang ditandai dengan keinginan untuk tampil berbeda dan cenderung ekspresif. Pada fase rentan ini, pola asuh yang dominan, kaku, tidak empatik, atau bahkan adanya tindakan bullying di lingkungan sekitar dapat menjadi pemicu utama munculnya emosi negatif dan perilaku memberontak pada anak.
Oleh karena itu, narasumber mengajak para orang tua untuk menciptakan regulasi emosi yang baik di dalam rumah melalui teknik komunikasi dari hati ke hati, pengaturan intonasi bicara, serta pemberian afirmasi yang konstan. Guna memastikan pemahaman para peserta, dilakukan pula sesi simulasi praktik langsung di mana orang tua mempraktikkan penyelesaian masalah anak secara efektif yang langsung mendapatkan supervisi dan evaluasi dari narasumber.
Seluruh rangkaian acara berjalan dengan khidmat, tertib, dan diakhiri dengan doa penutup bersama yang dipimpin oleh Ibu Kristiani Sulistyaningsih.