Genuk - Menjadi guru di masa kini bukan sekadar mengajar, melainkan bertumbuh sebagai pribadi utuh yang memiliki nilai, arah, dan dampak nyata bagi murid.
Dinamika profesi inilah yang mendorong kami, tiga guru dari TK-SD Kanisius Genuk Ungaran, yaitu Pak Ruli, Bu Naomi, dan Bu Desi untuk terus berkembang dengan mengikuti workshop guru junior yang diselenggarakan oleh Tim Peduli Pendidikan Kevikepan Semarang - Yayasan Insan Sekolah Kasih (YISK) dan Yayasan Kawan Tumbuh Indonesia (YKTI).
Kegiatan ini dilaksanakan pada 17–18 April 2026 di aula BPR Artha Makmur Semarang, dengan peserta yang berasal dari guru junior sekolah-sekolah Katolik di wilayah Kevikepan Semarang dan sekitarnya.
Selama kegiatan, kami didampingi oleh para fasilitator yaitu Bapak HJ Sriyanto, M.Pd, Ketua YKTI yang juga guru di SMA Kolese De Britto; Bapak Ig. Kinkin Teja A, S.Pd., MM selaku Learning & Development YKTI, dan Ibu Elisabeth Indira, S.Psi., M.Pd., Psi selaku Founder Talenta Semarang dan Dosen Fakultas Psikologi Soegijapranata Catholic University (SCU).
Pada hari pertama bersama Pak Kinkin kami belajar tentang Pipeline Leadership yang menekankan pentingnya kepemimpinan guru yang berkelanjutan, dimulai dari pengembangan diri hingga berdampak pada murid dan sekolah. Kami diajak menyelaraskan visi-misi sekolah dengan profil guru dan murid yang diharapkan, sehingga kepemimpinan dapat berjalan terarah dan konsisten.
Kami diajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam diri Inside Out, bukan dari luar. Kami diajak merefleksikan pola pikir, keyakinan, dan kebiasaan yang selama ini mempengaruhi cara kita mengajar dan memimpin. Mengubah paradigma dari dalam kita agar lebih efektif menghadapi tantangan dan menjadi guru yang lebih kuat dan otentik.
Pada hari kedua,bersama Pak HJ Sriyanto pemahaman kami diperdalam bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menjadi pewarta kabar gembira yang memberi makna bagi kehidupan murid. Guru dituntut untuk terus bertumbuh dan memberikan dampak positif melalui nilai yang diyakini.
Konsep instructional leadership mempertegas peran guru sebagai pemimpin pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas pengajaran, mengembangkan potensi murid, serta menggerakkan perubahan di kelas. Guru juga diibaratkan sebagai “dirigen” yang perlu memahami karakteristik murid agar tercipta pembelajaran yang bermakna.
Selain itu, kami belajar tentang pentingnya kesehatan mental dan kesejahteraan guru. Ibu Ira menyampaikan materi Mental Health and Wellbeing menjadi bekal penting bagi kami sebagai guru junior, terutama dalam menghadapi dinamika pekerjaan yang dapat memicu tekanan. Kondisi mental yang sehat menjadi fondasi agar guru dapat melayani murid secara optimal, tetap energik, dan produktif.
Melalui pelatihan ini, semakin meneguhkan kami bahwa menjadi guru adalah panggilan untuk terus bertumbuh, memberi dampak, dan menjaga keseimbangan diri agar pembelajaran yang dihadirkan selalu hidup, bermakna, dan penuh kasih. AMDG!