Beberapa jam sebelum kegiatan dimulai, dering notifikasi WhatsApp berbunyi. Pesan dari panitia masuk, “Workshop akan dimulai satu jam lebih awal. Apakah teman-teman bisa?” Jawaban yang muncul tak butuh waktu lama dan hampir serentak, “Bisa!”
Respons spontan tersebut mencerminkan semangat belajar yang tetap hidup di kalangan guru. Pada 2–3 Maret 2026, sebanyak 58 guru dan kepala sekolah bersama 9 pengurus Yayasan Kanisius mengikuti “Workshop Deep Learning dengan Logika Abduksi Menggunakan Perspektif Taksonomi SOLO” di Rumah Retret Panti Semedi. Kegiatan ini menghadirkan Dr. J. Haryatmoko SJ dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Maria Magdalena Nimas Eki Suprawati, M.Si., Ph.D dari Universitas Sanata Dharma.
Workshop ini bertujuan memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam, reflektif, dan bermakna, sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang menekankan pentingnya penerapan deep learning untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Menggeser Cara Pandang
Pada praktiknya, guru telah berupaya mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui berbagai strategi, seperti proyek, diskusi, dan refleksi. Namun, tantangan masih muncul, antara lain pemahaman yang belum utuh tentang deep learning, pandangan guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, serta tuntutan capaian pembelajaran yang padat. Kondisi ini sering membuat pembelajaran berfokus pada penyampaian materi dan hasil, sehingga pemahaman mendalam kurang terfasilitasi.
Pada sesi awal, Romo Haryatmoko memperkenalkan konsep deep learning melalui berbagai pendekatan, termasuk Taksonomi SOLO, logika abduksi, design thinking, dan berpikir komputasional. Taksonomi SOLO yang dikembangkan oleh John Biggs dan Kevin Collis membantu guru menilai kualitas pemahaman siswa berdasarkan respons yang diberikan.
Berbeda dengan Taksonomi Bloom yang berfokus pada perancangan proses berpikir dari mengingat hingga mencipta, Taksonomi SOLO menekankan kedalaman pemahaman yang ditunjukkan siswa. Keduanya saling melengkapi: Bloom berperan dalam merancang pembelajaran, sedangkan SOLO digunakan untuk mengevaluasi capaian pemahaman siswa.
Guru Sebagai Fasilitator
Pendekatan ini menuntut pergeseran peran guru dari sumber utama pengetahuan menjadi fasilitator yang membuka ruang eksplorasi. Siswa didorong untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, dan berpikir kritis guna menumbuhkan rasa ingin tahu.
Pada sesi berikutnya, Ibu Nimas Eki Suprawati memperkuat pemahaman peserta melalui teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, yang menekankan bahwa pengetahuan berkembang melalui interaksi dengan lingkungan. Oleh karena itu, guru perlu memahami tahap perkembangan kognitif siswa dan merancang pembelajaran yang sesuai agar mudah dipahami.
Meskipun sebagian gagasan telah dikenal, workshop ini mendorong refleksi kritis terhadap praktik pembelajaran, khususnya dalam memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir secara aktif.
Tantangan yang Tak Terduga
Memahami konsep seperti logika abduksi, design thinking, dan berpikir komputasional tidak selalu mudah, sehingga sempat menimbulkan keraguan peserta terkait penerapannya di kelas. Namun, guru Taman Kanak-Kanak justru mampu merancang alur pembelajaran yang sistematis dengan pendekatan tersebut. Melalui kreativitas mereka, konsep yang kompleks disederhanakan menjadi aktivitas yang kontekstual dan sesuai dengan perkembangan anak.
Hasil yang Terlihat
Evaluasi yang dilakukan selama workshop menunjukkan dampak yang cukup menggembirakan. Sebanyak 73,6% mengalami peningkatan nilai pre-test dan post-test. Tingkat kepuasan peserta tergolong tinggi. Hampir seluruh peserta menilai materi workshop sangat relevan dengan kebutuhan mereka di sekolah.
Hal ini menunjukkan bahwa workshop tersebut tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kapasitas profesional guru serta memperkuat upaya implementasi pembelajaran mendalam di sekolah.
Berjalan Bersama Kaum Muda
Sebagian besar peserta workshop adalah guru muda yang dinamis, praktis, kritis, dan terbuka terhadap pendekatan baru. Interaksi belajar bersama mereka menghadirkan energi positif dan mencerminkan semangat Universal Apostolic Preferences, khususnya dalam berjalan bersama kaum muda. Proses ini menekankan pentingnya mendengarkan, belajar bersama, serta memberi ruang bagi kreativitas mereka untuk berkembang.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan, semangat guru muda menjadi sumber harapan. Perubahan tidak selalu lahir dari kebijakan besar, melainkan dari langkah-langkah kecil: kemauan untuk terus belajar, berefleksi, dan berkolaborasi dengan generasi muda guna membangun pendidikan yang lebih bermakna.