Belajar Menimbang. Wedi, 12 Februari 2026. Pagi ini suasana ruang kelas IIIB SD Kanisius Murukan 02 terasa sedikit berbeda. Ada rasa dag dig dug yang mengiringi langkah Ibu Brigitta Daniar Deby Yuliana, S.Pd. Hari ini, beliau akan melaksanakan pembelajaran Matematika dengan materi Pengukuran Berat dengan Satuan Baku sekaligus mendapatkan supervisi akademik dari Kepala Sekolah. Namun siapa sangka, suasana yang awalnya menegangkan justru berubah menjadi penuh tawa dan semangat belajar.
Pembelajaran diawali dengan permainan konsentrasi “cepat-cepatan mengambil spidol”. Anak-anak tampak antusias dan sigap. Bagi yang belum berhasil menjadi yang tercepat, tidak kecewa. Mereka justru mendapat “hadiah” berupa pertanyaan tentang jenis-jenis timbangan yang sebelumnya telah dijelaskan. Cara ini membuat seluruh murid tetap terlibat dan mengingat kembali materi dengan cara yang menyenangkan.
Momen yang paling ditunggu akhirnya tiba. Murid dibagi dalam 2 kelompok dan mulai praktik langsung menimbang berat badan serta buah jeruk. Ketika menimbang buah jeruk menggunakan timbangan duduk, anak-anak mulai mengenal anak timbangan benda-benda kecil dengan berat tertentu yang diletakkan di sisi lain timbangan untuk menyeimbangkan beban. Mereka memperhatikan bagaimana jarum atau lengan timbangan bergerak naik turun hingga mencapai posisi seimbang. “Selama ini cuma lihat waktu ikut ibu belanja di pasar,” celetuk salah satu murid sambil tersenyum. Restu dengan wajah berbinar berkata, “Ternyata menimbang itu menyenangkan. Kita harus menyeimbangkan kiri dan kanan supaya pas.”
Anak-anak belajar bahwa untuk mengetahui berat yang tepat diperlukan beberapa anak timbangan dengan ukuran berbeda yang disusun hingga kedua sisi benar-benar seimbang. Proses mencoba, menambah, atau mengurangi anak timbangan itulah yang membuat mereka semakin antusias. Gelak tawa dan diskusi kecil terdengar hingga waktu pembelajaran hampir berakhir.
Di akhir kegiatan, Ibu Daniar mengajak murid berefleksi dengan mengangkat timbangan di depan kelas. “Anak-anak, dalam timbangan ada anak timbangan kecil-kecil yang membantu mencapai keseimbangan,” ujar Ibu Dinar. Lebih lanjut beliau menjelaskan, “Dalam belajar juga begitu. Hal-hal kecil seperti mendengarkan, bertanya, mencoba, dan bekerja sama adalah ‘anak timbangan’ yang membuat hasil belajar kita menjadi tepat dan seimbang. Kalau kita mau sabar dan teliti, hasilnya pasti gemilang.”
Supervisi hari itu pun berlangsung lancar. Rasa dag dig dug di awal pembelajaran berubah menjadi rasa syukur dan kebanggaan. Pembelajaran bukan sekadar tentang angka kilogram dan gram, tetapi tentang keseimbangan, ketelitian, dan kerja sama.
Di SD Kanisius Murukan 02, belajar menimbang berarti belajar menyeimbangkan diri agar setiap langkah membawa hasil yang gemilang.