Menggaungkan Suara yang Terbungkam. Beberapa waktu yang lalu, SMP Kanisius Kalasan berhasil meraih juara ke-3 dalam lomba film pendek FKIP Fest 2025 yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma. Prestasi ini terasa membanggakan sekaligus mengagetkan. Membanggakan karena berhasil membawa pulang juara, dan mengagetkan karena prestasi tersebut lahir dari sebuah ekstrakurikuler yang baru berdiri pada awal semester ini.
Proses persiapan pun terbilang singkat, yakni kurang dari satu minggu. Setiap hari sepulang sekolah hingga sore, para anggota ekstrakurikuler melakukan pengambilan video. Bahkan, sang editor rela begadang demi memenuhi target pengumpulan film pendek. “Ternyata, perjuangan tidak mengkhianati hasil,” tutur guru pengajar ekstrakurikuler teater, Ibu Nulifara Sekar Arum Sari, S.S., atau yang akrab disapa Bu Eva.
Seperti telah disebutkan di atas, ekstrakurikuler teater SMP Kanisius Kalasan lahir pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Ekstrakurikuler ini didirikan dan dilatih langsung oleh Bu Eva. Kehadiran ekstrakurikuler teater berangkat dari kepekaan Bu Eva dalam melihat besarnya potensi seni yang dimiliki peserta didik SMP Kanisius Kalasan.
Selain itu, pengalamannya bergabung dalam Teater Seriboe Djendela Universitas Sanata Dharma dan Bengkel Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma, serta menjadi pemeran utama dalam pementasan Si Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi, mendorongnya untuk membagikan ilmu yang dimiliki. Hal tersebut disambut oleh enam murid yang bergabung sebagai anggota awal. Meski belum genap enam bulan berdiri, ekstrakurikuler ini telah mampu menorehkan prestasi. “Membuat bangga, kaget, sekaligus terharu, serta memberi motivasi,” ungkap Bu Eva. Ekstrakurikuler rutin dilaksanakan setiap hari Jumat pukul 13.00.
Sedikit mengetahui apa itu teater. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teater diartikan sebagai pementasan drama sebagai suatu seni atau profesi. Sementara itu, tokoh teater Indonesia, W.S. Rendra, menyatakan bahwa teater merupakan seni pertunjukan yang memadukan gerak, dialog, dan imajinasi untuk menyampaikan pesan sosial dan budaya. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa teater bukan sekadar hiburan, melainkan sarana penyampaian pesan. Oleh karena itu, pementasan teater selalu memiliki makna dan tujuan tertentu. Hal ini juga tercermin dalam film pendek kami yang mengangkat isu penghentian perundungan.
Mengikuti ekstrakurikuler teater SMP Kanisius Kalasan membantu membentuk pribadi sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Kanisius, yakni Kedisiplinan, Keunggulan, Kepedulian, Kejujuran, Kemerdekaan, dan Kepemimpinan. Nilai kedisiplinan tercermin dari komitmen anggota untuk hadir tepat waktu dan bertanggung jawab terhadap proses latihan, karena ketidakhadiran satu anggota dapat menghambat jalannya latihan.
Keunggulan diwujudkan melalui usaha untuk terus berkembang dan berprestasi dalam bidang seni peran. Kepedulian tampak saat teater digunakan sebagai sarana menyuarakan isu kemanusiaan dan ketidakadilan. Kejujuran hadir ketika aktor mampu menampilkan emosi secara tulus sesuai tuntutan peran.
Kemerdekaan terlihat dalam kebebasan berekspresi, saling menghargai ide, serta memberi ruang bagi orang lain untuk berpendapat. Sementara itu, kepemimpinan terbentuk melalui kerja sama tim, keteladanan, dan keberanian tampil di hadapan publik. Selain itu, berteater juga melatih artikulasi, pengendalian emosi, serta sikap yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Karena dalam hidup itu berteater,” kata Bu Eva.
Apa yang telah kami raih memunculkan motivasi untuk semakin rajin berlatih teater dalam ekstrakurikuler teater SMP Kanisius Kalasan. Kami pun berharap teman-teman sekolah kami dapat bergabung dalam ekstrakurikuler teater sehingga anggota dapat bertambah. Dengan demikian, kita dapat belajar dan mengembangkan bakat dalam seni peran yang kelak manfaat itu akan kita petik. Namun, yang lebih utama dari itu semua dengan berteater kita mampu menyuarakan suara yang terbungkam. Kita mampu mewujudkan suara itu dalam wujud gerak dan dialog. Karena hidup itu berteater.