Kamis, 22 Januari 2026. Aku bersiap ke sekolah dengan semangat. Dengan berseragam olahraga aku berangkat sekolah. Bersama pak guru dan teman – teman, pelajaran olah raga hari ini diisi dengan berjalan santai ke lapangan desa Bogem. Kami berjalan sekitar 2 Km. Sesampai di lapangan, kami senam bersama dan kemudian berlari.
Setelah berolahraga, pak guru mengajak kami melihat-lihat sekitar lapangan. Tampaklah sawah hijau membentang luas; tumbuh tananam padi yang subur. Aku pun melihat pak tani yang sedang mencangkul di sawah. Aku menghampiri dan berbincang sejenak dengan beliau. Dengan ramah beliau pun bercerita bahwa saat ini sedang merawat padi yang baru selesai diberi pupuk dan beliau bercerita tentang banyaknya rumput, gulma penggangu padi yang tumbuh di sawah. Beliau ini adalah mbah Harto Pawiro, dengan nama kecilnya Sagiyo, dan biasa dipanggil mbah Giyo.
Walau panas terik, beliau tetap semangat merawat tananam padinya. Aku terkesan. Walaupun sudah tua, beliau tetap semangat dan sehat. Tidak mudah bertani di daerah Bogem itu karena sawah di desa Bogem itu termasuk sawah tadah hujan. Jadi mengandalkan hujan untuk pengairannya. Bila butuh air banyak, petani nyedot (ambil) air dari sungai dialirkan dengan selang besar ke sawah dengan bantuan mesin pompa air. Pasti butuh biaya banyak.
Maka tak heran bila lewat jalan di sekitar sawah di desa Bogem banyak selang-selang air sepanjang jalan dari sungai ke sawah. Sungguh usaha yang tidak mudah dan tidak murah tapi para petani itu tetap semangat dan sabar mengolah sawah demi hasil panen berlimpah.
Setelah dari sawah pak guru mengajak kami mengunjungi kebun melon di dekat lapangan. Kebun ini milik “bumdes” desa Bogem. Kulihat tananam melon tertata rapi dan bersih. Ada 4 lokasi kebun yang ditanami melon, tapi hanya ada 1 kebun yang siap dipanen. Kulihat tananam melon yang tumbuh subur, berbuah besar. Ada yang berwarna hijau dan berwarna kuning. Senang hatiku melihatnya.
Kebun melon ini memakai teknik hidroponik dan pupuk organik. Terbayang rasa manis dan segarnya buah melon ini. Buah melon di sini harganya memang lebih mahal dari yang dijual di pasar karena pupuk organik membuat melon lebih sehat, lebih manis dan segar. Dan perawatan yang lebih teliti diperlukan, maka wajar jika harganya mahal.
Seusai itu kami pun pulang ke sekolah dan tak lupa menikmati buah melon yang pak guru beli. Manis dan segar rasanya. Perjalanan hari ini memberikan pelajaran merawat alam berarti merawat kehidupan. Pak tani yang semangat dan tekun mengolah tanah sawah berharap panen melimpah. Kebun melon yang dirawat dengan baik, pupuk organik yang dipilih membuat tanah subur dan melon tumbuh besar dan baik.
Dari mereka ini aku belajar menjaga dan mengolah tanah. Tanah pun membalas dengan panen baik. Alam, tanah ini, adalah sumber kehidupan, memberi segala yang kita perlukan. Maka sudah sepatutnya kita jaga dan manfaatkan dengan baik.
Terima kasih Tuhan berkah tanah subur untuk hidup. Terima kasih pak Lukas. Seru! Sekolah hidup hari ini.