Jumat, 23 Januari 2026. Hujan tak berhenti dari malam, tak menyurutkan niat anak-anak KAJIMBA (Kanisius Jimbaran) untuk berangkat ke sekolah. Terutama Kelas 6 yang tak sabar mengikuti rekoleksi bersama para frater SJ di Novisiat Girisonta.
Rekoleksi dalam bahasa Latin artinya “recollectio” yang berarti “mengumpulkan kembali’ atau “mengingat kembali”. Jadi rekoleksi berarti proses mengingat kembali atau merefleksikan pengalaman, pikiran, dan perasaan untuk memperoleh wawasan, pengertian, dan kesadaran baru. Tujuan rekoleksi sendiri adalah untuk memperoleh pemahaman lebih baik tentang diri sendiri, orang lain atau situasi tertentu.
Kami mengawali hari Jumat dengan apel pagi dan safeguarding (red. pembiasaan budaya aman dalam relasi di sekolah). Kami menuju Novisiat St. Stanislaus Girisonta dengan naik angkot, Di sepanjang jalan, anak-anak terlihat sangat gembira karena ini pertama kali bagi mereka akan masuk ke Novisiat Girisonta.
Sesampainya di sana kami disambut dengan hangat oleh para frater. Kami diajak masuk ke ruang rekreasi para frater; sudah tersedia kursi melingkar. Kami siap berdinamika dan berproses bersama.
Hal pertama yang dilakukan adalah kami diajak berkenalan dan bermain oleh Frater Dio sebagai pembuka rekoleksi. Dijelaskan oleh Frater Winu mengenai perjalanan seseorang yang diibaratkan dengan kursi, lampu dan seseorang yang membetulkan lampu tersebut. Yang intinya, kursi yang digunakan sebagai pijakan harus seimbang dengan kaki. Di sini kami diajak untuk membayangkan perjalanan hidup yang dimiliki setiap anak, bahkan masa lalu yang kurang baik.
Kami semua juga diajak untuk berefleksi untuk melihat diri kami masing-masing mengenai cita-cita, masa depan, dan angan-angan. Anak-anak ditanya apakah punya cita-cita? Sebagian besar dari mereka menjawab punya, bahkan ada yang bercita-cita ingin menjadi dokter dan guru (red. bisa jadi guru Kanisius Jimbaran nih). Sungguh sangat membanggakan.
Niat dan keinginan yang menjadi angan-angan anak-anak digali dan dihubungkan dengan masa lalu mereka. Frater menekankan bahwa masa lalu bukan hambatan untuk meraih masa depan yang gemilang walaupun kadang jalan yang ditempuh tidak sesuai harapan.
Dilanjutkan oleh Frater Karel, bahwa dalam diri kami masing-masing terdapat sesuatu yang aku tahu dan orang lain tahu (open area); aku tahu dan orang lain tidak tahu (hidden area); aku tidak tahu dan orang lain tahu (blind spot); serta aku tidak tahu dan orang lain tidak tahu (unknown area). Dalam bahasa psikologi dikenal dengan sebutan “Johari Window”.
Kegiatan yang tidak kalah menarik adalah anak-anak diajak oleh Frater Karel untuk bersyukur atas diri masing-masing dan juga diajak melakukan correctio fraterna sederhana. Correctio fraterna adalah istilah bahasa Latin yang berarti tindakan memberikan koreksi kepada seseorang dengan tujuan membantu mereka memperbaiki kesalahan atau perilaku yang tidak baik dengan cara yang penuh kasih. Ini sangat menarik. Anak-anak diberikan satu amplop yang sudah diberi nama, kemudian teman lain menuliskan koreksi terhadap teman lain tanpa menuliskan nama.
Sebagai penutup, anak-anak diajak oleh Frater Egwin untuk menyimpulkan rekoleksi ini. Bahwa menghargai masa lalu untuk bekal masa depan, mengenang pengalaman yang indah, belajar dari kesalahan, meneruskan yang baik, memperbaiki yang salah dan masukan dari orang lain penting untuk perkembangan anak-anak.
Dan yang tidak kalah penting ada prinsip yang harus selalu dipegang yaitu hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini serta tidak melupakan examen (red. pemeriksaan batin). Seperti yang dikatakan oleh Socrates, “Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas dihidupi”.
Semoga pengalaman rekoleksi sederhana ini dapat menjadi perubahan kecil untuk anak-anak KAJIMBA. Menuju masa depan gemilang.