Beberapa hari ini mendung menggelayuti Desa Jimbaran yang terletak di kaki Gunung Ungaran, termasuk sekolah kami SD Kanisius Jimbaran. Setiap hari mendung dan setiap hari pula hujan. Seperti pagi ini selain mendung, udara terasa dingin.
Kami memulai hari dengan mendaraskan Doa Anak Kanisius, menyanyikan lagu Indonesia Raya, menyanyikan Mars Kanisius dan penguatan karakter. Ketika saya memberikan penguatan karakter, saya biasanya mengabsen anak-anak yang tidak masuk, menanyakan kepada temannya atau kepada guru kelasnya.
Pagi ini, Diya (bukan nama sebenarnya) tidak terlihat di barisan kelas. Saya menanyakan kepada teman dan guru kelasnya dan ternyata Diya tidak masuk sekolah dari kemarin. Saya ingat betul bahwa setiap pagi Diya diantar oleh ibunya dan diawali dengan menangis. Sering saya bertanya kepada ibunya, dan ibunya menjawab, “Angel bu tangine, kedah dipekso (susah bu bangunnya, harus dipaksa)”. Dan karena dipaksa itulah Diya jadi menangis.
Saya berkeinginan untuk berkunjung ke rumahnya pagi ini karena tidak ada alasan apapun ke guru kelasnya. Saya sengaja berjalan kaki agar bisa menyapa masyarakat sekitar. Dengan begitu saya juga dapat mengenal masyarakat sekitar sekolah. Setelah 5 menit berjalan, saya sampai di rumah Diya. Hati saya terasa prihatin ketika melihat keadaan rumahnya yang jauh dari sederhana, sedangkan yang tinggal di rumah itu ada banyak orang.
Lagi-lagi Tuhan membuat saya merasa tergerak hati. Saya merasa sedih. Dengan melihat keluarga Diya, saya membaca tanda: mungkin Tuhan menginginkan saya untuk melakukan sesuatu untuk Diya. Tuhan hadir melalui keluarganya hari ini dan Tuhan juga yang menggerakkan saya untuk mengunjunginya.
Saya meminta Diya duduk di dekat saya. Saya melihat rambutnya banyak sekali kutu (padahal sebulan lalu, saya sudah minta guru kelasnya untuk memberikan obat kutu, tetapi masih tetap ada, bahkan dengan seijin orang tuanya, rambut sudah saya potongkan menjadi pendek sekali). Dan saya paham dengan kunjungan ke rumahnya ini.
Saya mengajak “ngobrol” Diya dari hati ke hati. Saya tanya mengapa tidak berangkat ke sekolah. Dari dalam ibunya menjawab, “Mboten purun bu, wong kaos kakine mpun molor”. Ya Tuhan, dalam hati saya merasa bersalah. Mengapa saya tidak peka? Mengapa saya membiarkannya tidak sekolah hanya karena kaos kakinya? Memang beberapa kali saya yang membelikan kaos kaki, namun kali ini Diya lepas dari pandangan saya.
Sekali lagi saya mengajak Diya untuk berangkat sekolah dan akan saya berikan kaos kaki. Sebenarnya Diya masih tidak mau berangkat ke sekolah karena sudah terlambat. Tetapi saya bilang, saya tidak akan pergi kalau kamu belum mandi dan tidak mau berangkat ke sekolah. Setelah melalui proses diskusi panjang dan rayuan maut, akhirnya Diya mau berangkat ke sekolah. Sampai sekolah, saya ganti kaos kakinya dan sepertinya mulai nyaman.
Kisah ini mengajarkan kepada saya bahwa banyak sekali hal yang membuat saya bisa lebih peka dan lebih perhatian. Dalam situasi ini, kita juga bisa menemukan Tuhan di mana saja, kapan saja, dan melalui siapa aja yang ada di sekitar kita. Mungkin masih banyak anak-anak kita lainnya yang butuh saya perhatikan; atau Tuhan hadir melalui Diya yang lain.
Semoga kisah sederhana ini bisa menjadi inspirasi banyak orang bahwa kita dapat menemukan Tuhan dalam segala hal - Finding God All Things - dan menjadi saluran berkat-Nya bagi yang membutuhkan.