Pada 9 Januari 2026, kita akan mengenang 1 Abad atau 100 tahun wafatnya Romo Franciscus Gregorius Josephus van Lith SJ atau lebih dikenal dengan sebutan Romo van Lith. Makam beliau berada di pemakaman Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sambil memikirkan apa saja kegiatan yang cocok untuk kenangan ini, baiklah kita kembali melihat sejarah hidup beliau sejenak.
Romo van Lith adalah pendiri Yayasan Kanisius. Pada waktu itu, untuk pertama kalinya, Yayasan Kanisius menggunakan nama Kanisius Vereeniging (Perkumpulan Kanisius). Didirikan pada 31 Agustus 1918 dan mendapatkan pengesahan resmi dari pemerintah Hindia Belanda pada 21 Oktober 1918. Kemudian pada 31 Juli 1927, Kanisius Vereeniging berubah menjadi Kanisius Stichting (Yayasan Kanisius) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Romo van Lith lahir pada 17 Mei 1863 di Oirschot Belanda. Ayahnya bernama Josephus van Lith bekerja sebagai pegawai pengadilan dengan tugas juru sita (bailiff atau court executor). Sedangkan ibunya bernama Anna Maria van der Heijden, seorang ibu rumah tangga.
Ia adalah seorang imam Jesuit. Masuk novisiat Serikat Jesus pada 1884, lalu studi filsafat-teologi di Belanda, dan ditahbiskan imam 15 Agustus 1894. Ia berangkat sebagai misionaris ke Hindia Belanda dan diperkirakan tiba di Semarang (Gedangan) pada tahun 1896. Setelah belajar bahasa Jawa dan berkarya lebih kurang setahun di sekitar Semarang – Bedono, ia pindah ke Muntilan pada tahun 1897 dan menetap di Desa Semampir di pinggir Kali Lamat.
Ia memberi perhatian pada budaya Jawa dan menemukan bahwa pendidikan adalah pintu masuk agar anak-anak Jawa, khususnya di desa-desa memiliki pendidikan yang baik dan diharapkan lahir pemimpin-pemimpin “pribumi” yang handal, termasuk guru dan katekis yang handal. Ia mulai dengan mendirikan Normaalschool dan Kweekschool tahun 1904, yakni Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Muntilan. Lalu pada tahun 1906 Romo van Lith juga mendirikan HIK (Hollandsch Inlandsch Kweekschool) putra di lokasi yang sama.
Ada satu peristiwa pastoral bersejarah yang dilakukan oleh Romo van Lith. Pada 14 Desember 1904, ia membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang di Sendangsono. Tempat ini sekarang menjadi tempat ziarah yang penting dan bersejarah karena menandakan lahirnya Gereja di kalangan orang Jawa.
Perhatiannya di dunia pendidikan terus berlangsung. Pada tahun 1911 ia mendirikan Kolese Xaverius dan Seminari pertama. Lewat karya pendidikan di Muntilan ini, lahirlah tokoh-tokoh politik Katolik seperti Kasimo, Soegiyapranata, Yos Sudarso, Cornelius Simanjuntak, Frans Seda dan lainnya. Dan juga penting diperhatikan bahwa dengan sekolah-sekolah Kanisius yang didirikan di desa-desa dan guru-guru yang dibinanya, banyak anak-anak desa dapat mengeyam pendidikan yang handal, berkarakter, dan bermartabat.
Kiprahnya di dunia politik juga sangat berpengaruh bagi kemajuan kepentingan orang-orang “pribumi” dan ini membuatnya tidak disukai oleh Belanda. Ia menjadi anggota Dewan Pendidikan atau Onderwijsraad pada tahun 1918 dan kemudian menjadi anggota Dewan Rakyat atau Volksraad.
Pada tahun 1920, kesehatannya menurun. Maka dia kembali ke negeri Belanda untuk pemulihan. Setelah jeda empat tahun, ia kembali ke Indonesia tahun 1924 dan menetap di Semarang (Gedangan). Dalam kondisi kesehatan yang tidak seprima dulu, ia masih sempat mendirikan sekolah HIS dan Standaardschool selain ikut mengajar para frater novis di Novisiat Serikat Yesus.
Ia wafat pada 9 Januari 1926 di salah satu rumah sakit di Semarang (kemungkinan RS Elisabeth) setelah menderita sakit keras selama berminggu-minggu. Pada usia 62 tahun dia mempersembahkan kembali hidupnya ke pangkuan Allah yang diabdinya sekuat tenaga demi misi di tanah Jawa.
Jenazahnya dibawa kembali ke Muntilan dengan kereta api. Ribuan umat dari Kalibawang, Salam, hingga Mendut berbondong-bondong mengantar. Pemakaman di pekuburan Yesuit Kolese Xaverius, Muntilan, pada 13 Januari 1926 menjadi peristiwa besar. Puluhan ribu orang hadir, lintas agama, menyanyikan kidung Jawa dan Latin. Sampai kini, makamnya tetap diziarahi sebagai tanda terima kasih atas benih iman yang ditaburnya di tanah Jawa khususnya melalui karya pendidikan.