Pepatah Jawa “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang diciptakan oleh Ki Hajar Dewantara mengandung makna mendalam tentang peran guru. Di depan, guru menjadi teladan; di tengah, membangkitkan semangat; di belakang, memberikan dorongan. Intinya adalah guru sejati mendidik dengan contoh atau teladan, bukan sekadar kata.
“Digugu dan ditiru” bukanlah slogan kosong. Murid secara alami meniru sikap, ucapan, bahkan cara guru menghadapi masalah. Guru yang datang tepat waktu mengajarkan disiplin tanpa perlu ceramah panjang. Guru yang tetap sabar saat murid melakukan kesalahan mengajarkan pengendalian diri lebih efektif daripada seribu kali peringatan. Sebaliknya, guru yang suka mengeluh, menunda pekerjaan, atau marah tanpa kendali justru menjadi teladan buruk yang juga akan ditiru.
Di era digital ini, teladan guru semakin krusial sekaligus menantang. Anak-anak kini memiliki banyak “guru” di gawai mereka: influencer, youtuber, tokoh media sosial. Namun, kedekatan emosional dan interaksi nyata dengan guru di kelas tetap tak tergantikan. Saat seorang guru menunjukkan integritas dengan mengakui kesalahannya di depan kelas, saat ia menghormati semua murid tanpa pilih kasih, saat ia tetap bersemangat mengajar meski gajinya tak seberapa, itulah saat ia benar-benar “digugu dan ditiru”. Dia memperlihatkan bahwa menjadi orang hebat atau baik tidak harus dengan keadaan sempurna. Dedikasi dan ketulusan hati menjadi prinsip dasar dan kekuatan utama menemani anak-anak didiknya.
Mendidik dengan teladan berarti guru harus terus memperbaiki diri (ongoing formation). Dia bukan manusia sempurna, tetapi manusia yang berusaha menjadi lebih baik setiap hari. Karena anak-anak tidak hanya mendengar apa yang dia katakan, mereka melihat apa yang dia lakukan. Dan di situlah letak kekuatan sejati seorang guru bukan di pangkat atau gelar, tetapi di jejak akhlak luhur yang dia tinggalkan di pikiran dan hati murid-muridnya.
Guru hebat bukan hanya yang paling pintar, tapi yang paling patut ditiru. Dengan mengajar, dia belajar dan berkembang dari waktu ke waktu.
Selamat Hari Guru. Terima kasih guruku, guru kita semua!