Dalam kehidupan keluarga, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Setiap bapak dan ibu belajar dari pengalaman, dari kesalahan, dan dari cinta yang tumbuh setiap hari. Hal inilah yang menjadi pesan utama dalam kegiatan Parenting SMP Kanisius Kalasan yang kembali dihadiri bersama Rm. Agustinus Setyodarmono SJ, alias Rm. Nano, mengajak orang tua untuk menyadari bahwa menjadi ayah dan ibu adalah perjalanan panjang yang terus mengasah hati dan kebijaksanaan.
Rm. Nano menekankan bahwa orang tua bukanlah pemilik anak, melainkan pendidik. Anak adalah pribadi yang tumbuh dengan keunikan, bakat, dan kehendak bebasnya sendiri.
Membangun Relasi yang Sehat di Rumah
Keluarga disebut sebagai sekolah pertama bagi setiap anak. Di sanalah mereka belajar mencintai, menghargai, dan mengenal dirinya sendiri. Rm. Nano menegaskan bahwa ibu adalah rumah pertama bagi anak, tempat ia merasa diterima tanpa syarat. Relasi yang sehat dibangun lewat dialog dari hati ke hati, bukan hanya perintah atau nasihat. Kata-kata positif, sentuhan fisik yang penuh kasih, dan kesediaan mendengarkan baik yang diucapkan maupun yang tidak diucapkan menjadi dasar kehangatan keluarga.
Tak ada orang tua yang sempurna. Justru ketika orang tua berani meminta maaf pada anak, di situlah anak belajar tentang kejujuran dan kerendahan hati.
Tantangan Zaman, Gadget dan Relasi yang Tergeser
Salah satu tantangan besar keluarga masa kini adalah ketergantungan pada gadget. Rm. Nano menggambarkan kondisi ini sebagai penjajahan gadget saat bapak, ibu, dan anak lebih sibuk dengan layar daripada tatap muka.
Gadget memang tidak terhindarkan, tetapi orang tua tetap perlu menjadi teladan dalam menggunakannya dengan bijak. Daripada melarang sepenuhnya, lebih baik mengajarkan anak cara berpikir kritis terhadap informasi dan mengatur waktu penggunaan teknologi.
Mendampingi Anak Bertumbuh
Selain soal relasi, Rm. Nano juga mengingatkan pentingnya membantu anak menemukan bakat dan merancang masa depannya. Bersama anak, orang tua diajak berdialog tentang cita-cita. Kebiasaan belajar yang konsisten setiap hari lebih berharga daripada belajar “kebut semalam." Dunia yang semakin dikuasai teknologi menuntut generasi muda yang kreatif, adaptif, dan tangguh.
Kasih Sayang dan Iman Sebagai Pondasi
Perkembangan psiko-seksual anak juga membutuhkan perhatian penuh. Semakin surplus kasih sayang yang diterima anak, semakin sehat pula pertumbuhannya. Sebaliknya, kekurangan kasih sayang dapat membuat anak mencari kompensasi yang salah.
Oleh karena itu, iman dan doa menjadi pondasi terakhir yang menguatkan seluruh aspek hidup keluarga. Dalam iman, keluarga menemukan arah dalam doa, keluarga menemukan ketenangan untuk terus melangkah.
Selama orang tua mau membuka hati dan mendengarkan, anak-anak akan selalu memiliki tempat terbaik untuk pulang, tidak lain adalah rumah yang penuh cinta dan pengertian.