Jimbaran - Pada tanggal 28 April sampai 1 Mei 2026, SD Kanisius Jimbaran diberikan kesempatan untuk berdinamika dalam live in bersama dengan kakak-kakak Kelas XI dari Canisius College Jakarta. Live in sendiri artinya tinggal bersama keluarga atau masyarakat untuk belajar langsung dengan keluarga yang ditempati.
Beberapa tujuan live in adalah belajar empati kehidupan orang lain, belajar mandiri, dan belajar budaya atau kebiasaan setempat. Belajar empati kali ini sungguh nyata karena mereka belajar mengetahui dan berdinamika dengan keluarga yang berbeda dengan keluarga mereka di rumah. Mereka juga belajar mandiri dengan cara memberikan pendampingan terhadap adik-adik di sekolah dan di rumah keluarga asuh. Dan yang lebih menarik, mereka belajar budaya yang belum pernah mereka lihat secara langsung sebelumnya yaitu reog.
Pagi hari pukul 06.00 WIB kakak-kakak dari Canisius College yang berjumlah 26 anak tiba di Gereja Girisonta. Mereka naik bus dan dilanjutkan perjalanan ke Jimbaran naik angkutan desa. Karena TKA belum selesai kakak-kakak transit di Gereja Bunda Maria Jimbaran dengan agenda sarapan pagi dan perkenalan bersama bapak ibu guru dengan bertukar video profil dari Canisius College dan Kanisius Jimbaran. Kegiatan dilanjutkan dengan berkeliling Dusun Jimbaran agar mereka mengenal lingkungan sekitar sekolah dan bakti sosial membersihkan Panti Asuhan Santo Thomas yang berada di belakang sekolah.
Selesai TKA, kami semua apel dengan kegiatan utama perkenalan bersama anak-anak Kanisius Jimbaran. Ketika kakak-kakak dari Canisius College menyanyikan mars mereka, kami semua sangat kagum dan terpesona, karena dengan suara yang lantang dan sikap yang tegak mereka menyanyikan mars dengan penuh semangat. Mulai dari sini anak-anak Kanisius Jimbaran belajar bahwa menyanyikan mars harus dengan sikap yang baik.
Kegiatan dilanjutkan dengan belajar mendampingi adik-adik Kanisius Jimbaran di kelas TK A sampai Kelas VI. Ada yang belajar Bahasa Inggris, ada yang belajar Matematika dan ada yang belajar menyanyi. Kakak-kakak dari Canisius College sangat antusias mendampingi adik-adiknya, walaupun pertama masuk kelas mereka telihat bingung dan belum tahu harus melakukan apa. Tetapi kemudian dengan berjalan waktu mereka punya ide dan bisa berdinamika di kelas.
Sore hari waktunya mereka diantar ke keluarga asuh dan berkenalan serta mulai belajar dengan kebiasaan keluarga baru. Setelah mandi mereka punya tugas mendampingi anak-anak PIA sekitar Dusun Jimbaran dan menariknya banyak dari anak-anak Kanisius Jimbaran yang senang berjumpa dan bermain bersama kakak-kakak dari Canisius College. Bahasa dan logat mereka yang biasanya ‘medok’ dan berbahasa Jawa, berubah menjadi bahasa Indonesia dengan logat khas Jakarta. Sedikit aneh dan lucu tetapi itu membuat mereka semakin dekat.
Hari kedua yang akan menjadi hari yang indah dan tak terlupakan. Niat kami hari itu hanya mengecat lapangan, tetapi ada satu kakak dari Canisius College yang bernama Jason Mardjono menjawab pertanyaan saya. Apakah ada yang bisa menggambar logo Kanisius? Jason menjawab, “Akan saya coba.” Dan Jason meminta gambar logo Kanisius.
Di kertas itu dia menghitung dengan teliti. Sampai sore Jason tidak mau pulang dan masih berkutat dengan penggaris dan lakban. Yang membuat saya kagum adalah dia membuat logo dengan tekun dan dengan rumus yang dia buat sendiri, sehingga ketika jadi logo Kanisius itu benar-benar pas dan sesuai dengan luas tempat. Bahkan setelah logonya jadi, Jason mengucapkan terima kasih karena sudah diberikan kesempatan mencoba.
Belajar dari anak SMA bernama Jason yang tidak hanya punya kecerdasan intelektual tapi juga punya kecerdasan emosional. Sungguh bisa untuk contoh adik-adik di Kanisius Jimbaran dan menjadi kolaborasi yang sangat keren. Dalam satu hari lapangan Kanisius Jimbaran menjadi cantik dengan logo Kanisius yang sudah lama kami impikan. Kenang-kenangan indah ini mungkin akan hilang ditelan waktu tetapi dinamika dan proses yang sudah dilalui tidak akan hilang dari hati kami
Kakak-kakak dari Canisius College juga sempat bermain sepak bola dan basket bersama dengan para frater dan romo di Novisiat di Girisonta. Semoga dengan pertemuan ini menginspirasi mereka untuk bergabung dengan Jesuit.
Hari terakhir kami tutup dengan penampilan reog dan makan makanan tradisional yang mungkin tidak pernah mereka makan. Meski tidak pernah makan, mereka mau mencoba dan setelah merasakan katanya enak.
Anak-anak dari Jimbaran berkolaborasi menampilkan reog bersama dengan kakak-kakak dari Canisius College Jakarta. Dari kota yang tidak pernah melihat dan bersentuhan langsung dengan reog, kali ini mereka harus menari. Ada yang mau menari, ada yang hanya melihat dan ada yang terlihat bingung. Semua demi belajar mengenai kebudayaan setempat.
Kolaborasi dan dinamika selama empat hari tiga malam sungguh berkesan bagi sekolah, keluarga asuh, adik asuh dan anak-anak di Kanisius Jimbaran. Kami saling belajar mengetahui kebiasaan masing-masing yang tentunya berbeda dan membuat kami semua belajar lebih mandiri, belajar lebih berempati dan belajar budaya di Jimbaran.
Live in ditutup misa bersama seluruh peserta live in di Gereja Jago Ambarawa. Senang dan bangga bisa melihat mereka bisa menyelesaikan live in. Sampai jumpa di lain kesempatan. Dari Canisius ke Kanisus. Salam Kanisian.