Berbagi Semangat Ignatian. Salah satu prinsip dasar dalam spiritualitas Ignatian adalah tentang memahami perbedaan antara sarana dan tujuan. Pembahasan ini dinilai penting bagi seorang pemimpin, misalnya kepala sekolah, agar ketika menyusun setiap Rencana Kerja Tahun Ajaran dapat lebih jernih dan jelas dalam membuat program kerja: mana yang sebenarnya tujuan dan mana sarana yang mendukung tujuan tersebut.
Dalam Spiritualitas Ignatian, yang berakar dari ajaran St. Ignatius Loyola, prinsip dasar tersebut penting dalam menjalankan perutusan. Dalam konteks sekolah di Yayasan Kanisius, pemahaman ini krusial agar para kepala sekolah bersama para pendidik dapat menjalankan tugas dengan fokus pada tujuan akhir, yaitu membentuk pribadi yang utuh/holistik, men and women for and with others, sesuai visi Ignatian, sambil menggunakan sarana secara efektif tanpa menjadikannya tujuan itu sendiri.
Prinsip dasar ini bersumber dari "Latihan Rohani St. Ignatius Loyola", khususnya dalam “Asas dan Dasar" (Principle and Foundation), yang menekankan bahwa manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Allah; dan segala sesuatu di dunia ini adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga dengan itu manusia pun mencapai keselamatan jiwa.
Dalam konteks sekolah, tujuan utama adalah mendidik murid menjadi pribadi yang cerdas, aman, dan peduli secara utuh/holistik; sementara sarana adalah alat, metode, infrastruktur, atau fasilitas yang mendukung tujuan tersebut.
Prinsip Spiritualitas Ignatian
1. Fokus pada Tujuan Akhir
Dalam Spiritualitas Ignatian, segala tindakan harus diarahkan untuk "Kemuliaan Allah yang Lebih Besar" (Ad Maiorem Dei Gloriam), dan karenanya mencapai “keselamatan jiwa”. Ini berarti dalam konteks pendidikan, tujuan utama sekolah adalah membentuk murid memiliki keunggulan: cerdas, aman, peduli pada sesama dan lingkungan hidup dengan melayani, berkomitmen pada iman dan keadilan, serta dapat bekerja sama. Kita sering menyebutnya dengan istilah 5C: Competence, Conscience, Compassion, Commitment, dan Collaboration. Di Yayasan Kanisius kita membahasakan 5C tersebut dengan istilah: Disiplin, Unggul, Jujur, Peduli, dan Merdeka. Kurikulum, metode pembelajaran, infrastruktur, fasilitas atau teknologi adalah sarana atau alat untuk mencapai tujuan ini, bukan tujuan itu sendiri.
2. Discernment
St. Ignatius Loyola menekankan discernment (penegasan rohani) dalam memilih sarana yang sesuai dengan tujuan. Kepala Sekolah harus mempertimbangkan apakah sarana yang digunakan selaras dengan visi dan misi sekolah, serta apakah sarana tersebut benar-benar mendukung perkembangan holistik murid. Discernment melibatkan pikiran dan hati melalui refleksi, doa, dan evaluasi untuk memastikan sarana tidak mengaburkan tujuan. Discernment dilakukan secara pribadi, kemudian secara bersama-sama dalam komunitas karya (sinodal).
3. Bijak dalam Memilih dan Menggunakan Sarana: Lepas Bebas
Dalam “Asas dan Dasar”, St. Ignatius Loyola mengajarkan indiferensi, yaitu sikap lepas bebas dari keterikatan berlebihan terhadap sarana tertentu. Kepala Sekolah harus terbuka akan beberapa kemungkinan sarana dan bersikap adaptif dalam memilih sarana, menggunakan apa yang paling efektif untuk mencapai tujuan, tanpa terikat pada sarana tertentu karena alasan kepentingan diri sendiri, kebiasaan-kebiasaan yang sudah berlangsung selama ini, atau tekanan-tekanan eksternal.
4. Refleksi dan Evaluasi
Examen Conscienciae adalah praktik Ignatian untuk merefleksikan tindakan sehari-hari, termasuk bagaimana sarana digunakan untuk mencapai tujuan. Kepala Sekolah harus secara rutin mengevaluasi apakah sarana yang digunakan (misalnya, program, fasilitas) benar-benar mendukung tujuan sekolah atau justru mengaburkan tujuan Sekolah (distraksi). Examen sangat membantu untuk menumbuhkan jiwa pejuang atau petarung atau “Semangat Magis” (Born to Fight) daripada jiwa penikmat.
5. Orientasi: Iman dan Keadilan
Spiritualitas Ignatian menekankan bahwa pendidikan harus menghasilkan pribadi yang melayani sesama dan dunia sebagai wujud pengabdian kepada Allah. Sarana yang digunakan di sekolah harus mendukung pembentukan murid sebagai pribadi yang cerdas, aman, peduli atau bertanggung jawab, tidak hanya mengejar prestasi individu atau sekolah.