Tanggal 4 Agustus 2025 yang lalu murid-murid SD Kanisius Jomegatan mendapatkan makan bergizi gratis dari pemerintah dengan SPPG Kasihan 1 dari dapur Sisan Asri, sebuah katering yang sudah berpengalaman melayani acara-acara besar seperti resepsi pernikahan.
Awalnya beberapa dapur mengajak untuk bekerja sama namun kami memilih SPPG Kasihan 1 karena ibaratnya buah, dia sudah matang dengan pengalaman perihal makanan bergizi. Awalnya kami sebagai guru juga merasa khawatir dengan berbagai pemberitaan di media sosial tentang pandangan negatif dan kasus-kasus yang terjadi. Namun berdasarkan pemantauan, komunikasi dengan pihak SPPG begitu baik sehingga sampai saat ini anak-anak kami aman. Kami juga memberi masukan tentang menu yang disajikan dan mereka sangat kooperatif menerima masukan dari kami. Pada bulan Januari 2026 guru dan karyawan juga mendapatkan makanan bergizi gratis.
Program MBG membawa manfaat, namun selalu ada makanan yang tidak habis dikonsumsi murid. Sisa makanan itu menimbulkan kegelisahan guru: dibuang sayang, disimpan pun ada batas keamanannya.
Jika ada anak yang tidak masuk sekolah dan orang tua tidak mengambil ke sekolah maka tidak terkonsumsi karena semua sudah mendapatkan jatah. Itu pun anak-anak juga sudah berbagi jika ada salah satu makanan yang dia tidak bisa memakannya karena alergi misalnya. Nah jika makanan ini dikembalikan ke SPPG sebenarnya di tingkat sekolah selesai tidak ada hal yang perlu dipikirkan, namun akan seberapa banyak makanan yang kembali ke SPPG dan bagaimana nasibnya. Keprihatinan inilah yang membuat kami memutuskan untuk “ngopeni” makanan yang tidak bertuan tersebut.
Guru merasa bertanggung jawab secara moral agar makanan MBG tidak berakhir di tempat sampah. Dari kepedulian inilah muncul niat mencari cara mengolah sisa makanan secara aman dan bermartabat.
Guru-guru terispirasi oleh salah satu murid ketika pagi-pagi murid itu memberikan sebotol air jeruk manis. Vano mengumpulkan buah jeruk dari teman-temannya yang tidak suka makan buah jeruk, kemudian dibawa pulang dan dibuat jeruk peras yang manis, dimasukkan kulkas dan pagi harinya diberikan kepada bu guru satu botol. Nah melihat begitu banyak makanan yang tersisa dan masih bagus, hati para guru ini merasa tak tega. Kemudian mulailah mencari cara bagaimana agar makanan ini masih bisa dikonsumsi. Melalui obrolan santai jelang doa pulang muncullah beberapa ide untuk memanfaatkan sisa makanan tersebut. Selain itu juga mencari ide di youtube atau tiktok.
Melihat tren banyak sisa makanan, sekolah mulai membuat aturan sederhana: memilah makanan yang masih layak, menyimpan dengan benar, dan menentukan batas waktu konsumsi agar tetap sesuai standar kesehatan. Sekolah mengedukasi tentang makanan bergizi, tentang meaningful eating sehingga anak-anak menghargai setiap suapan makanan dan berusaha untuk mengonsumsi sampai habis. Kami mengedukasi pula tentang bagaimana mengelola makanan kita dan sampah yang ditimbulkan apabila kita menyisakan makanan.
Tim MBG sekolah kemudian menyediakan galon bekas yang diberi tulisan sisa nasi, sisa lauk, dan tulang. Di sini anak-anak mulai bisa memilah sampah dan mengetahui betapa banyaknya makanan yang tersisa. Nasi sisa yang sudah dimakan biasanya ditampung dalam galon bekas dan dimanfaatkan oleh salah satu guru sebagai pakan bebek di rumahnya.
Tim MBG sekolah juga mulai mengelola makanan sisa yang masih bagus, untuk dibuat makanan yang lain. Untuk nasi sisa ini biasanya dibawa pulang dibuat kerupuk nasi yang gurih. Ada juga yang membuatnya menjadi mpek-mpek dengan kuah cuko yang lezat.
Karena tidak hanya nasi yang tersisa tetapi juga ada tahu, tempe, dan jeruk, maka makanan ini pun direproduksi menjadi makanan bentuk yang lain, misalnya Ibu Vita mengolah kembali tempe garit menjadi perkedel tempe. Ibu Prapti mengolah kembali tahu dengan cara diiris tipis-tipis dikasih tepung bumbu kemudian digoreng, jadilah tahu kriuk. Ibu Dinah membawa tahu dan dibuat tahu gejrot. Ibu Sari mengolah kembali tahu menjadi tahu walik. Ternyata tidak hanya di sekolah kami yang melakukan hal seperti ini. Seorang sahabat di Lubuk Linggau juga menceritakan hal yang sama. Selalu ada ide untuk memberi hidup kedua bagi makanan MBG.
Dalam aktivitas Makan Bergizi Gratis ini anak-anak belajar nilai penting antara lain menghargai makanan, tidak boros, dan melihat bahwa berbagi serta mengolah ulang adalah bagian dari pengalaman yang membentuk karakter mereka. Mereka menjadi peka terhadap kebutuhan tubuhnya, mengenal berbagai makanan bergizi seimbang. Mereka juga tidak boros karena di sekolah sudah mendapatkan makan, sehingga uang jajan lebih hemat. Anak-anak juga mempunyai kesempatan untuk berbagi dengan teman lainnya.