KALASAN – Di sebuah sudut Kalasan yang kini riuh oleh deru mesin alat berat dan transformasi pembangunan, sebuah kisah tentang keteguhan hati tumbuh subur. SMP Kanisius Kalasan kini berada di tengah pusaran perubahan besar megaproyek pembangunan jalan tol yang melintas di dekatnya serta pembangunan gereja yang sedang berjalan. Di tengah keterbatasan lahan yang kian menghimpit, suara gamelan tetap menggema, membuktikan bahwa identitas budaya tak boleh tergilas oleh roda pembangunan.
Keberanian di Tengah Keterbatasan
Karawitan di SMP Kanisius Kalasan bermula dari sebuah kerinduan. Tanpa memiliki gamelan sendiri, para murid memberanikan diri mengusulkan sebuah asa. "Bapak dan Ibu, kalau sementara kita meminjam gamelan dulu bagaimana?" usul mereka. Semangat inilah yang menjadi bahan bakar utama.
Perjuangan fisik pun dimulai. Setiap minggu, para murid harus berjalan kaki di bawah terik matahari menuju SD Kanisius Kalasan demi bertemu dengan bilah-bilah saron. Tak berhenti di situ, pencarian laras berlanjut hingga ke Kapanewon Kalasan. Jarak yang lebih jauh tak menyurutkan langkah. Di sana, mereka belajar arti kesabaran, menunggu rapat kedinasan usai di selasar gedung sebelum akhirnya diizinkan meminjam fasilitas umum tersebut.
Bertahan di Perpustakaan
Kini, sebuah tantangan besar kembali menghadang. Lokasi sekolah yang bersinggungan dengan megaproyek pembangunan jalan tol serta adanya pembangunan gedung gereja membuat ruang gerak sekolah semakin terbatas. Secara fisik, sekolah tidak lagi memiliki lahan tersisa untuk menambah ruang kelas atau sanggar seni khusus.
Namun, keterbatasan lahan ini tidak menghambat kreativitas. Berkat ketulusan para donatur yang tergerak oleh perjuangan para murid yang rela berjalan kaki, SMP Kanisius Kalasan akhirnya berhasil memiliki satu set gamelan berkualitas. Karena ketiadaan ruangan, sudut perpustakaan pun disulap menjadi ruang latihan.
Di antara rak-rak buku dan ruang yang juga digunakan untuk berbagai kegiatan lain, alunan pelog dan slendro tetap terdengar nyaring. Mereka berlatih di tengah hiruk-pikuk suara pembangunan di luar sekolah, seolah ingin menegaskan bahwa meski bangunan fisik bisa berubah dan lahan bisa menyempit, kecintaan pada budaya tetap memiliki ruang yang luas di hati mereka.
Harapan untuk Masa Depan
Kisah ini menjadi refleksi mendalam bagi para pemerhati pendidikan dan Dinas Kebudayaan. Di tengah modernisasi dan pembangunan infrastruktur yang masif, nasib pendidikan karakter berbasis budaya seringkali terhimpit. Para murid SMP Kanisius Kalasan telah menunjukkan "kelas" mereka yang sesungguhnya. Mereka tidak kalah oleh jarak, tidak menyerah pada terik matahari, dan tidak mengeluh meski harus berbagi ruang di perpustakaan. Kini, pertanyaannya adalah: sejauh mana kita akan ikut melangkah mendampingi kegigihan mereka di tengah kepungan debu pembangunan ini?