Pembelajaran Kontekstual. Kamis, 22 Januari 2026. Aku dan teman-teman bersama pak guru melakukan kegiatan di kebun sekolah. Rencana kami akan menanam sayur. Beberapa tahapan telah kami mulai dari membersihkan kebun dari rumput dan mencangkul tanah agar siap ditanami.
Dan hari ini kegiatan kami mulai dengan menyirami lahan pembibitan, lalu mencangkulnya agar tanah menjadi gembur dan kami siram dengan pupuk cair yang telah kami siapkan. Pupuk ini kami buat sendiri dari bahan tetes tebu. Menggunakan pupuk organik adalah pilihan kami agar kesuburan tanah tetap terjaga. Hasil tanaman sayur juga lebih sehat dan baik dari pada hasil pupuk kimia karena pupuk kimia bisa merusak kondisi tanah menjadi keras dan tidak subur lagi jika digunakan dalam jangka panjang.
Mengolah tanah untuk menanam sayur sepertinya hal yang mudah tapi percayalah itu melelahkan dan butuh kesabaran. Mencabut rumput, menyiram dengan air, mencangkul tanah, memberi pupuk, semua itu butuh tenaga banyak. Wajar jika kami pun lelah dan beristirahat sambil bermain dan ngobrol. Kami bermain membuat rumah-rumahan dengan daun pisang yang ada di dekat kebun. Bermain sambil ngobrol bersama membuat lelah kami hilang.
Kegiatan sederhana di kebun penuh makna, bahwa kami bersemangat mengolah tanah, memanfaatkan tanah dengan pupuk organik dengan harapan hasil yang baik. Karena kami yakin merawat alam ciptaan Tuhan ini adalah wujud syukur atas berkah tanah yang subur. Semoga kami tetap bersemangat sampai nanti menanam dan merawat kebun sayur kami dengan baik. Tuhan tolong lancarkan niatan kami ini. Amin
Terima kasih pak guru yang selalu memberi semangat dan arahan. Salam Laudato Si!